Daya Tarik Ilahi
Hari Minggu Biasa XV, Tahun A
Pada hari itu Yesus keluar dari rumah dan duduk di tepi danau. Orang banyak berbondong-bondong mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu dan duduk di situ, sedangkan seluruh orang banyak berdiri di pantai. Matius 13:1-2
Ini bukanlah pengalaman yang biasa. Jelaslah bahwa orang-orang begitu kagum kepada Tuhan kita sehingga mereka tertarik kepada-Nya oleh suatu daya tarik yang kudus dan ilahi. Orang banyak itu terpukau oleh Yesus dan menyimak setiap perkataan-Nya dengan penuh perhatian. Mereka begitu tertarik kepada-Nya sehingga berdesakan di sepanjang pantai untuk mendengarkan Yesus berbicara dari perahu.
Kisah Injil ini semestinya menggugah Anda untuk bertanya secara pribadi. Apakah Anda tertarik kepada Yesus dengan cara yang serupa? Ada banyak hal yang menarik hati kita. Mungkin suatu hobi atau minat pribadi, mungkin pekerjaan Anda atau aspek lain dalam hidup Anda. Namun, bagaimana dengan Tuhan kita dan Sabda-Nya yang kudus? Seberapa besar Anda tertarik kepada-Nya?
Idealnya, di dalam hati kita semestinya ada kerinduan yang berkobar untuk bersama Yesus, mengenal-Nya, mengasihi-Nya, dan mengalami kerahiman-Nya secara lebih penuh dalam hidup kita. Semestinya ada suatu tarikan dalam hati kita yang berasal dari Yesus sendiri. Tarikan ini menjadi daya tarik ilahi yang menjadi pendorong utama dalam hidup kita. Berkat daya tarik ini, kita menanggapi-Nya, mendengarkan-Nya, dan menyerahkan hidup kita secara lebih penuh kepada-Nya. Inilah rahmat yang diberikan kepada mereka yang terbuka serta siap dan bersedia untuk mendengarkan dan menanggapi.
Renungkanlah hari ini Hati Tuhan kita yang maharahim, yang memanggil Anda untuk berpaling kepada-Nya dengan segenap daya jiwa Anda. Biarkan Dia menarik Anda kepada-Nya dan tanggapilah dengan memberikan waktu dan perhatian Anda kepada-Nya. Dari sana, Ia akan menuntun Anda ke tempat yang Ia kehendaki bagi Anda.
Tuhanku yang membangkitkan rasa takjub, hidupku adalah milik-Mu. Tariklah aku ke dalam Hati-Mu yang penuh belas kasih. Bantulah aku agar terpukau oleh kemuliaan dan kebaikan-Mu. Kuserahkan kepada-Mu segenap daya jiwaku, ya Tuhan terkasih. Terimalah aku dan tuntunlah aku menurut kehendak-Mu yang mahakudus. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Mengandalkan Penyelenggaraan Ilahi
Hari Minggu Biasa XV, Tahun B
Ia berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat—jangan membawa roti, jangan membawa bekal, dan jangan membawa uang dalam ikat pinggang mereka. Markus 6:8
Apakah Allah peduli akan hal-hal terkecil dalam hidup Anda? Apakah Ia peduli agar Anda memperoleh makanan dan tempat tinggal yang layak? Apakah Ia peduli agar Anda memperoleh dukungan emosional, material, dan rohani yang memadai? Tentu saja Ia peduli!
Terkadang kita tidak menyadari betapa sepenuhnya Allah memelihara kita. Kita dapat terjebak dan dikuasai oleh ketakutan serta kecemasan akan urusan sehari-hari. Kita dapat khawatir bahwa kita tidak akan memiliki cukup untuk hari esok, atau bahkan untuk hari ini. Kekhawatiran ini dapat menyangkut segala segi kehidupan kita—hubungan dengan orang lain, emosi, kebutuhan materi, kekuatan rohani, dan sebagainya.
Yang perlu kita ketahui dengan penuh kepastian ialah bahwa Allah memperhatikan setiap detail kehidupan kita. Ia mengetahui segalanya dan mengasihi kita dengan begitu sempurna sehingga Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Ia tidak akan pernah membiarkan kita kekurangan hal-hal yang kita perlukan untuk menjalani hidup yang penuh dan berbuah.
Apakah Anda percaya akan hal itu? Terkadang hal itu sulit dipercaya. Terkadang kita merasa kewalahan dan mengira bahwa kita harus mengurus semuanya sendiri. Memang benar bahwa kita dipanggil untuk mempersembahkan segenap tenaga dan bakat kita kepada Allah agar Dia dapat memakai kita dan berkarya melalui kita. Namun, kita tidak boleh pernah lupa bahwa pada akhirnya Allahlah yang memelihara kita dan paling memperhatikan setiap kebutuhan kita.
Renungkanlah hari ini seberapa besar Anda berserah kepada penyelenggaraan ilahi. Daraskanlah doa di bawah ini dan renungkanlah sejauh mana Anda dapat sungguh-sungguh menjadikannya doa Anda sendiri. Yesus, aku percaya kepada-Mu!
Doa Penyerahan Diri
Bapa,
aku menyerahkan diriku ke dalam tangan-Mu;
perbuatlah padaku menurut kehendak-Mu.
Apa pun yang Engkau perbuat, aku bersyukur kepada-Mu:
aku siap untuk segalanya, aku menerima segalanya.
Biarlah hanya kehendak-Mu yang terlaksana dalam diriku,
dan dalam segala ciptaan-Mu –
aku tidak menginginkan apa pun selain ini, ya Tuhan.
Ke dalam tangan-Mu kuserahkan jiwaku:
kupersembahkan kepada-Mu dengan segenap kasih hatiku,
sebab aku mengasihi-Mu, Tuhan, dan karena itu aku merasa perlu menyerahkan diriku,
memasrahkan diriku ke dalam tangan-Mu tanpa syarat,
dan dengan kepercayaan tanpa batas,
sebab Engkaulah Bapaku.
Kasih kepada Allah dan Sesama
Hari Minggu Biasa XV, Tahun C
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lukas 10:27
Kata-kata ini diucapkan oleh seorang ahli Taurat kepada Yesus. Ia mengutip hukum Perjanjian Lama dari Kitab Imamat dan Ulangan (Imamat 19:18, Ulangan 6:5, 10:12). Yesus memujinya karena mengucapkan kata-kata ini. Namun, kemudian ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Yesus menjawabnya dengan menceritakan kisah yang sudah dikenal tentang orang Samaria yang baik hati.
Kisah orang Samaria yang baik hati seharusnya menyadarkan kita akan beberapa kenyataan yang tidak begitu menyenangkan tentang kasih kepada sesama, atau ketiadaan kasih itu. Mula-mula, seorang imam dan seorang Lewi melewati orang yang telah dipukuli dan sedang menderita di pinggir jalan itu. Mereka mengabaikannya dan lewat di seberang jalan. Kemudian seorang Samaria lewat, tergerak oleh belas kasihan, dan bersusah payah menolong orang itu.
Kesimpulannya jelas. Kita harus menjadi seperti orang Samaria yang baik hati, yang menunjukkan belas kasihan kepada orang yang membutuhkan pertolongan itu. Secara intelektual, mudah bagi kita untuk sampai pada kesimpulan ini. Namun, dalam praktiknya, tidak selalu demikian.
Menarik bahwa dalam kisah itu Yesus menampilkan seorang imam sebagai orang pertama yang berjalan di seberang jalan. Salah satu hal yang disampaikan kepada kita melalui hal ini ialah bahwa terlalu sering kita mengejar apa yang disebut “kekudusan lahiriah”, padahal sesungguhnya kita tidak memiliki “kekudusan batiniah” yang sejati. Imam itu dapat dipandang sebagai lambang mereka yang secara lahiriah mengaku sebagai orang Kristen, tetapi gagal mewujudkan kekudusan mereka dalam tindakan. Tanpa menghayati kasih sejati kepada sesama, kita adalah orang-orang yang berpura-pura dan tidak hidup sesuai dengan panggilan suci kita.
Renungkanlah hari ini perbedaan antara kekudusan lahiriah dan batiniah. Idealnya, kehidupan batin Anda begitu sepenuhnya dikuasai oleh kasih kepada Allah sehingga kasih itu meluap ke dalam tindakan lahiriah Anda. Jika kasih Anda kepada Allah tidak hidup sepenuhnya di lubuk hati Anda, tidak mungkin Anda sungguh-sungguh kudus.
Tuhan sumber kekudusan sejati, bantulah aku untuk sungguh-sungguh mengasihi-Mu dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatanku. Bantulah aku untuk memiliki kasih yang begitu tulus kepada-Mu sehingga kasih itu juga meluap menjadi kasihku kepada sesama. Semoga anugerah kekudusan-Mu yang berharga meresapi hidupku dan memampukan aku untuk mengasihi-Mu serta sesama dengan seutuhnya. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Damai atau Pedang?
Senin Pekan Biasa XV
Yesus berkata kepada para rasul-Nya: “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Matius 10:34-36
Apakah ini salah ketik? Apakah Yesus benar-benar mengatakan ini? Ini adalah salah satu perikop yang dapat membuat kita sedikit heran dan bingung. Namun, Yesus kerap melakukan hal seperti ini, jadi kita tidak perlu terkejut. Lalu, apa maksud Yesus? Apakah Dia benar-benar ingin membawa “pedang” dan perpecahan, bukan damai?
Ketika membaca perikop ini, penting bagi kita untuk membacanya dalam terang segala hal lain yang pernah Yesus ajarkan. Kita harus membacanya dalam terang seluruh ajaran-Nya tentang kasih dan belas kasihan, pengampunan dan persatuan, dan sebagainya. Namun, dengan mengingat semua itu, apa yang sedang Yesus bicarakan dalam perikop ini?
Terutama, Dia sedang berbicara tentang salah satu dampak Kebenaran. Kebenaran Injil memiliki kuasa untuk mempersatukan kita secara mendalam dengan Allah ketika kita menerimanya sepenuhnya sebagai Sabda Kebenaran. Namun, dampak lainnya adalah bahwa Kebenaran itu memisahkan kita dari mereka yang menolak untuk dipersatukan dengan Allah dalam Kebenaran. Bukan itu yang kita maksudkan, dan kita pun tidak boleh menghendaki atau mengupayakannya atas kemauan sendiri. Namun, perlu dipahami bahwa dengan membenamkan diri dalam Kebenaran, kita juga menempatkan diri dalam pertentangan dengan siapa pun yang mungkin menentang Allah dan Kebenaran-Nya.
Budaya kita dewasa ini ingin mewartakan apa yang kita sebut “relativisme”. Ini adalah gagasan bahwa apa yang baik dan benar bagi saya mungkin tidak baik dan benar bagi Anda, tetapi meskipun kita semua memiliki “kebenaran” yang berbeda-beda, kita tetap dapat menjadi satu keluarga yang bahagia. Namun, itu bukanlah Kebenaran!
Kebenaran (dengan huruf “K” besar) adalah bahwa Allah telah menetapkan apa yang benar dan apa yang salah. Ia telah menetapkan hukum moral-Nya atas seluruh umat manusia, dan hal ini tidak dapat dibatalkan. Ia juga telah menyatakan kebenaran-kebenaran iman kita, dan semua itu tidak dapat dibatalkan. Hukum itu berlaku bagi saya sama seperti bagi Anda atau siapa pun juga.
Perikop di atas menyadarkan kita akan kenyataan yang serius: dengan menolak segala bentuk relativisme dan berpegang teguh pada Kebenaran, kita juga menghadapi risiko perpecahan, bahkan dengan anggota keluarga kita sendiri. Ini menyedihkan dan menyakitkan. Yesus menyampaikan perikop ini terutama untuk menguatkan kita ketika hal ini terjadi. Jika perpecahan terjadi akibat dosa kita, kita patut malu. Jika hal itu terjadi akibat Kebenaran (yang disampaikan dengan belas kasih), kita hendaknya menerimanya sebagai akibat dari Injil. Yesus ditolak, dan kita tidak perlu terkejut jika hal itu juga terjadi pada kita.
Renungkanlah hari ini sejauh mana Anda siap dan bersedia menerima seluruh Kebenaran Injil, apa pun konsekuensinya. Seluruh Kebenaran itu akan memerdekakan Anda dan terkadang juga menyingkapkan perpecahan yang ada antara Anda dan mereka yang telah menolak Allah. Anda harus berdoa untuk persatuan dalam Kristus, tetapi jangan bersedia berkompromi demi mewujudkan persatuan yang semu.
Tuhan sumber Kebenaran, berilah aku kebijaksanaan dan keberanian yang kubutuhkan untuk menerima segala sesuatu yang telah Engkau wahyukan. Bantulah aku untuk mengasihi-Mu di atas segala sesuatu dan menerima apa pun konsekuensi dari mengikuti-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Saatnya Bertobat!
Selasa Pekan Biasa XV
Yesus mulai mengecam kota-kota tempat Ia paling banyak melakukan perbuatan-perbuatan penuh kuasa, sebab mereka tidak bertobat. “Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau, Betsaida!” Matius 11:20-21a
Sungguh suatu tindakan belas kasih dan cinta dari Yesus! Ia menegur orang-orang di kota Khorazim dan Betsaida karena Ia mengasihi mereka dan melihat bahwa mereka terus berpegang pada kehidupan mereka yang berdosa, meskipun Ia telah membawa Injil kepada mereka dan melakukan banyak perbuatan penuh kuasa. Mereka tetap keras kepala, terperangkap, bingung, tidak mau bertobat, dan tidak mau mengubah cara hidup mereka. Dalam konteks ini, Yesus menawarkan suatu bentuk belas kasih yang luar biasa. Ia menegur mereka dengan keras! Setelah perikop di atas, Ia melanjutkan dengan berkata, “Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu.”
Ada suatu pembedaan yang sangat berharga di sini, yang seharusnya membantu kita mendengar apa yang mungkin sedang Allah katakan kepada kita pada saat-saat tertentu, sekaligus membantu kita mengetahui cara menghadapi orang-orang di sekitar kita yang terbiasa berbuat dosa dan menimbulkan luka dalam hidup kita atau hidup orang lain. Pembedaan ini berkaitan dengan motivasi Yesus ketika menegur keras orang-orang Khorazim dan Betsaida. Mengapa Ia melakukannya? Dan apa motivasi di balik tindakan-Nya?
Yesus menegur mereka karena kasih dan keinginan agar mereka berubah. Mereka tidak segera bertobat dari dosa mereka ketika Ia menyampaikan ajakan dan memberikan kesaksian yang penuh kuasa melalui mukjizat-mukjizat-Nya, maka Ia perlu mengambil langkah yang lebih tegas. Langkah yang lebih tegas ini berupa teguran yang keras dan jelas, yang lahir dari kasih.
Tindakan Yesus ini pada awalnya dapat dianggap sebagai luapan amarah yang emosional. Namun, di situlah letak perbedaan yang penting. Yesus tidak menegur mereka dengan keras karena Ia marah dan kehilangan kendali. Sebaliknya, Ia menegur mereka karena mereka membutuhkan teguran itu agar dapat berubah.
Kebenaran yang sama dapat diterapkan dalam hidup kita. Ada kalanya kita mengubah hidup kita dan mengatasi dosa berkat ajakan lembut Yesus untuk menyambut rahmat. Namun, pada waktu lain, ketika dosa telah berakar dalam, kita membutuhkan teguran yang kudus. Dalam hal ini, hendaknya kita mendengarkan perkataan Yesus ini seolah-olah ditujukan kepada kita. Bisa jadi inilah tindakan belas kasih khusus yang kita butuhkan dalam hidup kita.
Hal ini juga memberi kita pemahaman yang mendalam tentang cara kita memperlakukan orang lain. Orang tua, misalnya, dapat belajar banyak dari hal ini. Anak-anak akan sering menyimpang dengan berbagai cara dan memerlukan koreksi. Tentu tepat untuk memulai dengan ajakan dan percakapan yang lembut guna membantu mereka membuat pilihan yang benar. Namun, terkadang cara ini tidak berhasil dan diperlukan langkah-langkah yang lebih tegas. Apakah “langkah-langkah yang lebih tegas” itu? Amarah yang tak terkendali dan teriakan penuh dendam bukanlah jawabannya. Sebaliknya, murka yang kudus, yang bersumber dari belas kasih dan kasih, mungkin menjadi kuncinya. Hal ini dapat berupa teguran keras atau hukuman. Atau, dapat pula berupa penegasan kebenaran dan penjelasan yang gamblang tentang konsekuensi dari tindakan-tindakan tertentu. Ingatlah bahwa ini pun merupakan kasih dan merupakan suatu bentuk meneladan tindakan Yesus. Inilah yang biasa kita sebut “kasih yang tegas”.
Renungkanlah hari ini apakah Anda membutuhkan teguran dari Yesus. Jika ya, biarkanlah Injil kasih ini meresap ke dalam hati Anda. Renungkanlah juga tanggung jawab Anda untuk mengoreksi kesalahan orang lain. Jangan takut untuk melakukan tindakan kasih ilahi yang hadir dalam bentuk teguran yang tegas. Hal itu mungkin justru menjadi kunci untuk membantu orang-orang yang Anda kasihi agar semakin mengasihi Allah.
Tuhanku yang penuh gelora, bantulah aku untuk bertobat dari dosaku setiap hari. Bantulah aku menjadi sarana pertobatan bagi orang lain. Semoga aku selalu menerima sabda-Mu dengan kasih dan menyampaikannya dalam bentuk kasih yang paling berdaya guna. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Menjadi seperti Anak Kecil
Rabu Pekan Biasa XV
“Aku memuji Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab meskipun Engkau menyembunyikan hal-hal ini dari orang bijak dan orang terpelajar, Engkau menyatakannya kepada mereka yang bersikap seperti anak kecil.” Matius 11:25
Hidup itu rumit. Ataukah sebenarnya tidak? Itu pertanyaan yang bagus. Terkadang segala sesuatu dapat terasa sangat rumit. Situasi yang kita hadapi, hubungan dengan keluarga dan sahabat, masa depan kita, masa lalu kita, dan sebagainya, semuanya terkadang dapat terasa membebani dan rumit. Namun, sebenarnya tidak harus demikian. Kenyataannya, jawaban Allah atas pertanyaan-pertanyaan paling “rumit” dalam hidup sering kali cukup sederhana untuk dipahami oleh seorang anak.
Dalam kutipan di atas, Yesus menegaskan bahwa Bapa menyatakan jawaban dan kebijaksanaan-Nya kepada mereka yang bersikap seperti anak kecil. Menariknya, Ia juga menyatakan bahwa Bapa telah “menyembunyikan hal-hal ini dari orang bijak dan orang terpelajar.” Maka, timbullah pertanyaan…lebih baik menjadi “bijak dan terpelajar” atau “seperti anak kecil”? Jelas, jawabannya adalah lebih baik menjadi seperti anak kecil.
Pada awalnya, hal ini mungkin terasa membingungkan. Mungkin terdengar aneh jika dikatakan bahwa menjadi “bijak dan terpelajar” itu tidak baik. Namun, maksudnya ialah bahwa tidak baik menjadi orang yang merasa sudah memahami segalanya. Tidak baik menjadi sombong dan sok tahu. Tidak baik menjadi begitu penuh kesombongan hingga kita merasa memiliki semua jawaban.
Yang ideal adalah memiliki sifat-sifat tertentu dari seorang anak. Secara khusus, baiklah kita menjadi pribadi yang terbuka, ingin tahu, dan mau belajar. Baiklah kita memandang hidup dengan cara yang sesederhana mungkin dan tetap berpegang pada hal-hal mendasar. Tentu saja, bertumbuh dalam kebijaksanaan dan pengetahuan tentang hal-hal ilahi itu baik. Namun, kebijaksanaan dan pengetahuan sejati selalu mempertahankan kepolosan dan kesederhanaan tertentu. Keduanya tetap memelihara kebaikan yang mendasar serta pengakuan akan apa yang benar dan apa yang salah. Hidup tidak harus rumit; hidup perlu menjadi sangat sederhana.
Renungkanlah hari ini seberapa siap dan bersedia Anda berpaling kepada Allah untuk memperoleh jawaban yang sederhana dan jelas atas pertanyaan-pertanyaan tersulit dalam hidup. Renungkanlah seberapa besar kesediaan Anda untuk berpaling kepada Allah dengan kepercayaan dan pengharapan, dengan mengetahui bahwa Allah memiliki semua jawaban bagi hidup Anda.
Tuhan sumber segala kebijaksanaan, sekali lagi aku berpaling kepada-Mu dengan penuh kepercayaan. Bantulah aku menyadari bahwa segala kebijaksanaan berasal dari-Mu, bukan dari diriku sendiri. Bantulah aku untuk selalu berpaling kepada-Mu seperti seorang anak, dan bantulah agar hidupku tetap sederhana sebagaimana yang Engkau kehendaki. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Meletakkan Beban Anda
Kamis Pekan Biasa XV
Yesus bersabda: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11:28
Ajakan Yesus ini mungkin perlu kita dengar jauh lebih sering daripada yang kita sadari. Ini adalah ajakan lembut untuk membiarkan Tuhan kita meringankan beban harian kita, meredakan kekhawatiran, tekanan, kecemasan, dan segala sesuatu yang membebani kita. Ini adalah ajakan yang penuh kasih dan belas kasih, yang hendaknya selalu kita terima.
Apa yang membebani Anda? Apa yang memberatkan hati Anda dan menggoda Anda untuk jatuh ke dalam depresi, kesedihan, atau bahkan keputusasaan? Adakah sesuatu yang cenderung Anda pikirkan secara obsesif? Adakah kekhawatiran yang seolah tidak dapat Anda singkirkan? Apa pun yang meresahkan hati Anda, Yesus ingin mengangkatnya.
Terkadang kita menjalani hidup dengan beban-beban berat yang takut kita lepaskan. Kita bisa merasa takut untuk datang kepada Yesus dan takut membiarkan-Nya masuk ke dalam hidup kita. Datang kepada Yesus berarti kita harus menghadapi apa pun yang membebani kita dengan jujur dan terbuka, dan kita harus menghadapi beban-beban itu di hadirat Yesus.
Namun, hal utama yang perlu kita ketahui ialah bahwa Yesus itu lemah lembut, penuh belas kasih, dan murah hati dalam memberikan pengampunan serta rahmat. Kerinduan-Nya untuk mengangkat beban kita jauh lebih besar daripada kerinduan kita agar beban itu diangkat. Dia melihat tekanan yang dihadapi banyak orang dan sangat menginginkan agar tekanan itu disingkirkan.
Renungkanlah hari ini undangan Yesus yang lembut itu: “Datanglah kepada-Ku.” Datanglah kepada-Nya tanpa rasa takut dan tanpa ragu. Serahkanlah segala sesuatu kepada-Nya dan biarkan Dia membereskannya. Dia mengasihi Anda lebih daripada yang Anda sadari dan akan menuntun langkah Anda di jalan yang benar.
Tuhanku yang mengundangku, sungguh aku datang kepada-Mu dan meletakkan hidupku serta setiap bebanku di hadapan-Mu. Kuserahkan kepada-Mu hidupku, harapanku, ketakutanku, masa laluku, masa depanku, dan segala sesuatu yang mencemaskanku. Yesus, kuserahkan segalanya kepada-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Aku Menghendaki Belas Kasihan
Jumat Pekan Biasa XV
“Jika kamu memahami arti perkataan ini, Yang Kukehendaki ialah belas kasihan, bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang-orang yang tidak bersalah ini.” Matius 12:7
Para Rasul Yesus merasa lapar, lalu mereka memetik bulir-bulir gandum sambil berjalan untuk menghilangkan rasa lapar mereka. Akibatnya, orang-orang Farisi mengecam para Rasul karena melakukan apa yang mereka sebut “tidak diperbolehkan” pada hari Sabat. Mereka menyatakan bahwa memetik bulir-bulir gandum sambil berjalan dianggap sebagai “pekerjaan” dan dengan demikian para Rasul melanggar hukum yang mewajibkan orang beristirahat pada hari Sabat.
Benarkah demikian? Apakah orang-orang Farisi sungguh menganggap bahwa para Rasul berdosa karena memetik gandum sambil berjalan untuk menghilangkan rasa lapar mereka? Semoga tidak sulit bagi kita untuk melihat betapa tidak masuk akal dan tidak berdasarnya kecaman ini. Para Rasul tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi tetap saja dikecam. Mereka adalah “orang-orang yang tidak bersalah”, seperti yang ditegaskan Yesus.
Yesus menanggapi sikap orang-orang Farisi yang tidak masuk akal itu dengan mengingatkan mereka akan firman Kitab Suci, “Aku menghendaki belas kasihan, bukan persembahan.” Dia menegaskan bahwa para Rasul dihukum secara tidak adil karena orang-orang Farisi tidak memahami ayat ini dan perintah Allah untuk berbelas kasih.
Perintah untuk beristirahat pada hari Sabat berasal dari Allah. Namun, perintah untuk beristirahat itu bukanlah suatu kewajiban yang menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Ini bukan sekadar ketentuan hukum yang seolah-olah menghormati Allah hanya dengan ditaati secara ketat. Istirahat Sabat terutama merupakan anugerah Allah bagi umat manusia, sebab Allah tahu bahwa kita membutuhkan istirahat dan penyegaran. Ia tahu bahwa setiap minggu kita membutuhkan waktu untuk mengurangi kesibukan, mempersembahkan ibadat khusus kepada Allah, dan menikmati kebersamaan dengan orang lain. Namun, orang-orang Farisi mengubah istirahat Sabat menjadi beban. Mereka menjadikannya suatu ketaatan yang kaku dan legalistis, yang sama sekali tidak memuliakan Allah ataupun menyegarkan jiwa manusia.
Salah satu kebenaran utama yang dapat kita pelajari dari ayat ini ialah bahwa Allah memanggil kita untuk menafsirkan hukum-Nya dengan memandangnya melalui belas kasih. Belas kasih selalu menyegarkan kita, membangkitkan kita, dan memenuhi kita dengan kekuatan baru. Belas kasih mendorong kita untuk menyembah Allah dan memenuhi kita dengan harapan. Belas kasih tidak menimpakan beban legalistis yang berat kepada kita; sebaliknya, belas kasih dan hukum Allah bersama-sama memulihkan serta menyegarkan kita.
Renungkanlah hari ini bagaimana Anda memandang perintah-perintah Allah dan hukum-Nya. Apakah Anda memandangnya sebagai kewajiban yang legalistis dan membebani? Ataukah Anda memandangnya sebagai berkat belas kasih Allah yang dimaksudkan untuk meringankan beban Anda?
Tuhanku yang maharahim, bantulah aku untuk mencintai hukum-Mu. Bantulah aku untuk sungguh melihatnya dalam terang kerahiman dan rahmat-Mu. Semoga aku disegarkan oleh segala yang Engkau perintahkan dan diteguhkan oleh kehendak-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Menghadapi Niat Jahat Orang Lain
Sabtu Pekan Biasa XV
Orang-orang Farisi keluar dan bersekongkol melawan Yesus untuk membunuh-Nya. Matius 12:14
Jika Anda sungguh meluangkan waktu untuk memikirkan hal ini, peristiwa ini mengejutkan, menyedihkan, dan bahkan menimbulkan batu sandungan. Di sini, para pemimpin agama pada masa itu secara aktif, sengaja, dan penuh perhitungan bersekongkol untuk membunuh Juruselamat dunia. Dia yang justru seharusnya mereka nantikan dengan penuh harapan dan mereka persiapkan kedatangan-Nya malah menjadi sasaran niat jahat, kebencian, dan penganiayaan mereka yang paling kejam.
Hal itu sungguh mengejutkan, dan karena itu kita patut merasakan dukacita yang mendalam atas tindakan mereka. Namun, berdukacita atas tindakan mereka tidak berarti kita harus jatuh ke dalam amarah yang tidak rasional, keputusasaan, atau keinginan untuk membalas dendam. Dukacita atas tindakan jahat orang-orang Farisi sesungguhnya merupakan suatu bentuk kasih kepada mereka, sebab dukacita yang mendalam atas tindakan mereka adalah cara untuk mengajak mereka bertobat.
Memang, hal ini terjadi bertahun-tahun yang lalu, dan orang-orang Farisi yang bertindak dengan penuh perhitungan dan niat jahat itu sudah tidak lagi hidup di antara kita. Meskipun demikian, Yesus terus dianiaya dengan berbagai cara, dan terkadang penganiayaan ini bahkan ditemukan di antara mereka yang mengaku sebagai orang Kristen, bahkan di antara mereka yang menjalankan peran kepemimpinan dalam Gereja kita dan dunia.
Dalam kehidupan nyata, kita semua mungkin dapat merasakan, dalam taraf tertentu, bagaimana rasanya menjadi sasaran persekongkolan dan rencana penganiayaan seperti yang dialami Yesus. Sangat kecil kemungkinan kita mengalami kejahatan ini sampai pada taraf yang dialami Yesus, tetapi kemungkinan besar kita semua pernah mengalaminya dalam taraf tertentu.
Sayangnya, ketika kita menyerahkan diri secara radikal kepada Kristus dan misi-Nya, kita sering menjadi sasaran si jahat. Dan sangat sering, kita mengalami serangan panah si jahat melalui orang-orang yang seharusnya menjadi pendukung terbesar kita. Karena itu, jika Anda mengalami hal seperti ini dalam bentuk apa pun, jangan sampai Anda tersandung dalam iman atau terlalu terguncang. Wajar jika Anda merasa sedih karenanya, tetapi jangan membiarkan hal itu membuat Anda kehilangan akal sehat. Penganiayaan merupakan bagian dari mengikuti Kristus. Hal itu terjadi pada Yesus, maka kita pun harus siap mengalaminya.
Renungkanlah hari ini bagaimana Anda menghadapi perlakuan menyakitkan dan kedengkian orang lain. Anda bukanlah pihak yang diberi hak untuk menghakimi atau menghukum mereka. Namun, Anda dipanggil untuk mengalami dukacita yang sama seperti yang dialami Yesus. Dukacita ini adalah dukacita suci yang dibicarakan dalam Sabda Bahagia. Dukacita inilah yang akan memampukan Anda menolak kesalahan-kesalahan yang Anda jumpai serta bertumbuh dalam kesabaran dan ketabahan.
Tuhanku yang berdukacita, ketika aku merasa diejek atau dianiaya oleh orang lain, bantulah aku untuk tetap teguh dalam imanku dan, terutama, dalam kasihku. Bantulah aku untuk membiarkan dukacita suci menguatkanku agar tetap berharap dan terus melangkah maju dalam misi yang telah Engkau berikan kepadaku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Juga Tersedia dalam Format Buku Sampul Lunak & Buku Elektronik
