Hari Minggu Biasa XX (Tahun A)
Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud! Anakku perempuan sangat menderita karena kerasukan setan.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Murid-murid Yesus datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, sebab ia terus berteriak-teriak mengikuti kita.” Matius 15:22-23
Inilah salah satu kisah menarik yang di dalamnya tindakan Yesus dapat dengan mudah disalahpahami. Seiring berjalannya kisah ini, Yesus menanggapi keinginan perempuan itu untuk memperoleh pertolongan dengan berkata, “Tidak patut mengambil makanan anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Aduh! Sekilas, perkataan ini terdengar kasar. Namun, tentu saja tidak demikian, sebab Yesus tidak pernah bersikap kasar.
Sikap diam Yesus pada awalnya terhadap perempuan ini dan perkataan-Nya yang terkesan kasar merupakan tindakan yang melaluinya Yesus tidak hanya dapat memurnikan iman perempuan ini, tetapi juga memberinya kesempatan untuk menyatakan imannya agar dilihat semua orang. Pada akhirnya, Yesus berseru, “Hai ibu, besar imanmu!”
Jika Anda ingin menapaki jalan kekudusan, kisah ini ditujukan bagi Anda. Melalui kisah ini, kita memahami bahwa iman yang besar lahir dari pemurnian dan kepercayaan yang tak tergoyahkan. Perempuan ini berkata kepada Yesus, “Benar, Tuhan, tetapi anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Dengan kata lain, ia memohon belas kasihan meskipun dirinya tidak layak.
Penting untuk memahami bahwa terkadang Allah tampak diam. Ini merupakan tindakan kasih-Nya yang mendalam, sebab sesungguhnya ini adalah undangan untuk berpaling kepada-Nya pada tingkat yang sangat mendalam. Keheningan Allah memungkinkan kita beralih dari iman yang dipupuk oleh pujian dan emosi menuju iman yang ditumbuhkan oleh kepercayaan murni kepada kerahiman-Nya.
Renungkanlah hari ini saat-saat dalam hidup ketika Anda merasa seolah-olah Allah diam. Ketahuilah bahwa saat-saat itu sebenarnya merupakan undangan untuk percaya pada taraf yang baru dan lebih mendalam. Nyatakanlah kepercayaan Anda dan biarkan iman Anda dimurnikan lebih sepenuhnya, sehingga Allah dapat melakukan hal-hal besar dalam diri Anda dan melalui Anda!
Tuhan, aku mengakui bahwa dalam segala hal aku tidak layak menerima rahmat dan kerahiman-Mu dalam hidupku. Namun, aku juga mengakui bahwa kerahiman-Mu melampaui segala pengertian dan begitu besar sehingga Engkau berkenan mencurahkannya kepadaku, seorang pendosa yang malang dan tidak layak. Aku memohon kerahiman itu, ya Tuhan terkasih, dan aku menaruh seluruh kepercayaanku kepada-Mu. Yesus, aku sungguh percaya kepada-Mu.
Ketika Iman Ditantang
Hari Minggu Biasa XX (Tahun B)
Orang-orang Yahudi bertengkar di antara mereka sendiri dan berkata, “Bagaimana orang ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Yesus berkata kepada mereka, “Sesungguhnya, sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah makanan yang sejati dan darah-Ku adalah minuman yang sejati. Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Yohanes 6:52-56
Ini bukan hanya ajaran yang penuh kuasa tentang Ekaristi Mahakudus, melainkan juga ajaran yang penuh kuasa tentang bagaimana kita menghadapi penentangan dari orang lain. Yesus dapat melihat bahwa ajaran-Nya tentang Tubuh dan Darah-Nya menimbulkan kegemparan yang cukup besar. Lalu, apa yang Ia lakukan? Apakah Ia mundur dan bertindak dengan cara yang “benar secara politis” demi mencoba meredakan ketegangan? Sama sekali tidak. Sebaliknya, Ia memperdalam dan memperjelas ajaran-Nya yang murni dan kudus tentang Ekaristi. “Sesungguhnya, sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” Wah.
Bagi kita yang mendengarnya hari ini, perkataan ini mungkin tidak semengejutkan ketika pertama kali diucapkan. Penting bagi kita untuk berusaha memahami konteks situasi ini agar memperoleh gambaran yang jelas tentang apa yang sedang terjadi. Yesus menawarkan anugerah terbesar yang pernah dikenal umat manusia. Ia menawarkan diri-Nya sendiri secara sakramental dalam rupa roti dan anggur. Hal ini hanya dapat diterima dengan iman. Mereka yang mendengarkan harus mengenali dalam hati mereka bahwa apa yang Yesus katakan kepada mereka adalah benar. Mereka harus mengenali kebenaran ini dalam terang iman. Mereka yang menerimanya kemungkinan besar tidak sepenuhnya memahami maksud Yesus, tetapi mereka tetap percaya. Mereka yang tidak beriman menolak ajaran-Nya dan menganggap-Nya gila.
Inilah konteks ketika Yesus melanjutkan ajaran-Nya. Di tengah penentangan keras dari sebagian orang dan penerimaan dengan iman dari sebagian lainnya, Ia memilih untuk memberi santapan kepada mereka yang beriman dan mengabaikan mereka yang melontarkan kritik.
Hal yang sama terjadi pada kita. Ketika kita mulai menunjukkan benih-benih iman dalam hati kita, Yesus melihat iman kita, memupuknya, dan membantunya bertumbuh. Dari pihak kita, kita harus berusaha membiarkan benih iman yang telah ditanam itu dipupuk pula agar tumbuh semakin kuat.
Seiring bertumbuhnya iman kita, kita juga akan dianugerahi kekuatan dan keyakinan yang dimiliki Yesus, dan kita akan mampu mengabaikan ejekan serta kebodohan orang-orang di sekitar kita. Kita tidak akan menyerah pada permainan politik dan manipulasi zaman kita; sebaliknya, setiap hari kita akan memperdalam keyakinan kita dan membiarkannya bersinar.
Renungkanlah hari ini berbagai situasi sulit yang Anda hadapi ketika iman Anda ditantang. Semakin Anda menghayati iman Anda dan mencintainya secara terbuka, semakin Anda akan tampak berbeda dan menghadapi kemungkinan penganiayaan. Siapkah Anda menyertai Tuhan kita untuk tetap teguh menghadapi segala sesuatu yang berusaha memadamkan keindahan iman Anda?
Tuhan, bantulah aku agar kuat dan penuh kepercayaan kepada-Mu. Bantulah aku untuk mendengarkan Engkau dan menanggapi bisikan kebenaran dan kasih-Mu. Di tengah keraguan dan ketidakberesan, bantulah aku untuk membawa sabda-Mu yang memberi hidup baru. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Api Iman yang Berkobar
Hari Minggu Biasa XX (Tahun C)
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku datang untuk menyalakan api di bumi, dan betapa Aku berharap api itu sudah berkobar!” Lukas 12:49
Perikop ini mengungkapkan dua hal kepada kita. Pertama, perikop ini mengungkapkan maksud Yesus untuk “menyalakan api di bumi.” Kedua, perikop ini mengungkapkan bahwa Dia menginginkan agar “api itu sudah berkobar.”
Apa artinya ketika Yesus berkata bahwa Dia datang untuk menyalakan api di dunia? Api adalah gambaran yang kuat dan memberikan banyak pemahaman tentang kehidupan Kristiani. Pertama, api melalap. Demikian pula dengan Kristus. Dia datang untuk melalap kita. Dia datang untuk mengubah kehidupan kita yang kecil ini menjadi api yang berkobar. Hal ini mengungkapkan bahwa ada potensi besar dalam kehidupan kita masing-masing. Kita memiliki potensi untuk menjadi sesuatu yang sama sekali baru jika kita membiarkan percikan rahmat menyulut jiwa kita.
Api juga memiliki potensi untuk membawa perubahan. Panasnya menghangatkan kita, cahayanya memungkinkan kita melihat dalam kegelapan, dan energinya menghasilkan tenaga dengan berbagai cara untuk membantu kita dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula dengan rahmat. Rahmat Allah mengubah hati kita yang dingin, menuntun kita melewati kegelapan hidup, dan menyediakan segala yang kita perlukan untuk menjalani kehidupan yang berbuah.
Menarik untuk diperhatikan bahwa Yesus tidak hanya mengatakan bahwa Ia datang untuk menyalakan api di dunia; Ia bahkan mengatakan bahwa Ia menghendaki agar api itu sudah berkobar. Kerinduan Tuhan kita ini merupakan undangan untuk beranjak dari kehidupan yang biasa-biasa saja dan suam-suam kuku menuju kehidupan Kristiani yang radikal. Kita tidak dipanggil untuk diubah hanya sebagian, atau bahkan sebagian besar saja. Tidak, kita dipanggil untuk menjadi nyala api iman yang berkobar-kobar, diubah oleh Allah untuk membawa perubahan nyata di dunia!
Renungkanlah hari ini api di dalam jiwa Anda sendiri. Seberapa terang api itu menyala? Anda perlu memelihara api itu setiap hari, mengobarkannya dengan komitmen penuh. Berusahalah untuk menjadi api berkobar sebagaimana yang Tuhan kehendaki bagi Anda, dan Anda akan takjub melihat betapa sepenuhnya Anda dapat diubah oleh rahmat.
Tuhan, nyalakanlah hatiku dengan kecemerlangan kasih dan kerahiman-Mu. Bantulah aku agar terbuka terhadap perubahan hidup yang menyeluruh sebagaimana Engkau kehendaki bagiku. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu tanpa syarat, ya Tuhan terkasih. Gunakanlah aku seturut kehendak-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Apakah Anda Ingin Menjadi Kaya?
Senin Pekan Biasa XX
“Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memiliki harta di surga. Kemudian datanglah, ikutilah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan ini, ia pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Matius 19:21-22
Syukurlah Yesus tidak mengatakan hal ini kepada Anda atau saya! Benar, bukan? Atau justru Ia mengatakannya kepada kita? Apakah perkataan ini berlaku bagi kita semua jika kita hendak sempurna? Jawabannya mungkin mengejutkan Anda.
Memang, Yesus memanggil sebagian orang untuk sungguh-sungguh menjual seluruh harta milik mereka dan membagikannya. Mereka yang menjawab panggilan ini menemukan kebebasan yang besar dalam ketidakterikatan mereka pada segala harta benda. Panggilan hidup mereka menjadi tanda bagi kita semua tentang panggilan batin yang radikal yang telah diberikan kepada kita masing-masing. Namun, bagaimana dengan kita yang lain? Apakah panggilan batin yang radikal yang diberikan Tuhan kita kepada kita itu? Itulah panggilan untuk hidup miskin secara rohani. Yang kita maksud dengan “kemiskinan rohani” ialah bahwa kita masing-masing dipanggil untuk melepaskan keterikatan pada hal-hal duniawi, sama seperti mereka yang dipanggil untuk sungguh-sungguh hidup dalam kemiskinan. Satu-satunya perbedaan ialah bahwa panggilan yang satu bersifat batiniah sekaligus lahiriah, sedangkan panggilan yang lain hanya bersifat batiniah. Namun, panggilan itu harus sama radikalnya.
Seperti apakah kemiskinan batin itu? Kemiskinan batin adalah suatu Sabda Bahagia. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,” sebagaimana dikatakan Santo Matius, dan “Berbahagialah orang yang miskin,” sebagaimana dikatakan Santo Lukas. Kemiskinan rohani berarti kita menemukan berkat kekayaan rohani dalam sikap lepas bebas kita dari daya pikat materi pada zaman ini. Tidak, “barang-barang” materi itu tidak jahat. Itulah sebabnya tidak ada salahnya memiliki harta pribadi. Namun, cukup lazim bahwa kita juga memiliki keterikatan yang kuat pada hal-hal duniawi. Terlalu sering kita menginginkan lebih dan lebih lagi, lalu terjebak dalam pikiran bahwa memiliki lebih banyak “barang” akan membuat kita bahagia. Itu tidak benar, dan jauh di lubuk hati kita mengetahuinya, tetapi kita tetap saja jatuh ke dalam perangkap dengan bertindak seolah-olah lebih banyak uang dan harta akan memuaskan kita. Sebagaimana diungkapkan dalam sebuah katekismus Romawi lama, “Orang yang memiliki uang tidak pernah merasa uangnya cukup.”
Renungkanlah hari ini panggilan yang jelas yang telah Anda terima untuk hidup di dunia ini tanpa menjadi terikat pada hal-hal duniawi. Harta milik hanyalah sarana untuk mencapai tujuan, yakni menjalani hidup yang kudus dan memenuhi tujuan hidup Anda. Itu berarti Anda memiliki apa yang Anda butuhkan, tetapi juga berarti Anda berusaha menghindari hal-hal yang berlebihan dan, terutama, menghindari keterikatan batin pada harta duniawi.
Tuhan, pemilik segala kekayaan, dengan bebas aku melepaskan segala yang ada padaku dan yang kumiliki. Kupersembahkan semuanya kepada-Mu sebagai kurban rohani. Terimalah segala yang kumiliki dan bantulah aku untuk menggunakannya hanya seturut kehendak-Mu. Semoga dalam sikap lepas bebas itu aku menemukan kekayaan sejati yang Engkau sediakan bagiku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Menjadi yang Pertama!
Selasa Pekan Biasa XX
“Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Matius 19:30
Kalimat singkat yang terselip di akhir Injil hari ini mengungkapkan banyak hal. Kalimat ini mengungkapkan pertentangan antara keberhasilan duniawi dan keberhasilan abadi. Begitu sering kita mengejar keberhasilan duniawi dan lalai mencari kekayaan yang bertahan hingga kekekalan.
Mari kita mulai dengan “banyak orang yang terdahulu”. Siapakah mereka? Untuk memahaminya, kita harus memahami perbedaan antara “dunia” dan “Kerajaan Allah”. Dunia di sini merujuk pada popularitas yang semata-mata sia-sia dalam suatu kebudayaan. Keberhasilan, gengsi, kemuliaan semu, dan hal-hal serupa menyertai popularitas dan keberhasilan duniawi. Si jahat adalah penguasa dunia ini dan sering berusaha mengangkat mereka yang melayani kehendaknya yang tidak kudus. Namun, dengan cara itu, banyak dari kita terpikat dan tertarik pada bentuk ketenaran ini. Ini menjadi masalah, terutama ketika kita mulai mendasarkan jati diri kita pada pendapat orang lain.
“Banyak orang yang terdahulu” adalah mereka yang diangkat oleh dunia sebagai ikon dan teladan keberhasilan yang dipuja banyak orang ini. Ini adalah pernyataan umum yang tentu saja tidak berlaku untuk setiap situasi dan setiap orang secara khusus. Namun, kecenderungan umumnya perlu diakui. Dan menurut ayat Kitab Suci ini, mereka yang terseret ke dalam kehidupan semacam ini akan menjadi yang “terakhir” dalam Kerajaan Surga.
Bandingkanlah hal ini dengan mereka yang menjadi “yang terdahulu” dalam Kerajaan Allah. Jiwa-jiwa kudus ini mungkin dihormati di dunia ini, mungkin juga tidak. Sebagian orang mungkin melihat kebaikan mereka dan menghormati mereka (seperti Santa Bunda Teresa dihormati), tetapi sangat sering mereka direndahkan dan dianggap tidak dikehendaki menurut ukuran duniawi.
Mana yang lebih penting? Sejujurnya, apa yang lebih Anda inginkan untuk selama-lamanya? Apakah Anda lebih memilih dipandang baik dalam kehidupan ini, sekalipun itu berarti mengorbankan nilai-nilai dan kebenaran? Ataukah pandangan Anda tertuju pada kebenaran dan ganjaran abadi?
Renungkanlah hari ini tujuan mengumpulkan harta di Surga dan ganjaran abadi yang dijanjikan kepada mereka yang hidup dalam kesetiaan. Tidak ada yang salah dengan dipandang baik oleh orang lain di dunia ini, tetapi Anda tidak boleh membiarkan keinginan semacam itu menguasai Anda atau mengalihkan pandangan Anda dari hal-hal yang abadi. Renungkanlah sejauh mana Anda telah melakukannya, dan berusahalah menjadikan ganjaran surgawi sebagai satu-satunya tujuan Anda.
Tuhanku yang kekal, bantulah aku untuk mencari Engkau dan Kerajaan-Mu di atas segala-galanya. Semoga menyenangkan hati-Mu dan mengabdi kepada kehendak-Mu yang mahakudus menjadi satu-satunya kerinduan dalam hidupku. Bantulah aku melepaskan keprihatinan yang tidak sehat akan ketenaran dan popularitas duniawi, sehingga aku hanya memedulikan apa yang Engkau pikirkan. Kuserahkan kepada-Mu, ya Tuhan terkasih, seluruh diriku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Rasa Syukur Mengalahkan Iri Hati
Rabu Pekan Biasa XX
“Iri hatikah engkau karena aku murah hati?” Matius 20:15b
Kalimat ini berasal dari perumpamaan tentang seorang tuan tanah yang mempekerjakan para pekerja pada lima waktu berbeda dalam sehari. Kelompok pertama dipekerjakan saat fajar, kelompok kedua pukul sembilan pagi, dan kelompok-kelompok berikutnya pada tengah hari, pukul tiga sore, serta pukul lima sore. Mereka yang dipekerjakan saat fajar bekerja sekitar dua belas jam, sedangkan mereka yang dipekerjakan pukul lima sore hanya bekerja satu jam. “Masalahnya” adalah bahwa tuan tanah itu membayar semua pekerja dengan jumlah yang sama, seolah-olah mereka semua telah bekerja dua belas jam penuh dalam sehari.
Pada awalnya, pengalaman ini dapat menggoda siapa pun untuk iri hati. Iri hati adalah sejenis kesedihan atau kemarahan atas keberuntungan orang lain. Mungkin kita semua dapat memahami rasa iri mereka yang telah bekerja sehari penuh. Mereka bekerja selama dua belas jam penuh dan menerima upah penuh. Namun, mereka iri hati karena orang-orang yang hanya bekerja satu jam diperlakukan dengan begitu murah hati oleh tuan tanah itu dan menerima upah sehari penuh.
Cobalah menempatkan diri Anda dalam perumpamaan ini dan renungkan bagaimana Anda akan menanggapi kemurahan hati pemilik kebun itu terhadap orang lain. Apakah Anda akan melihat kemurahan hatinya dan bersukacita bagi mereka yang diperlakukan dengan begitu baik? Apakah Anda akan turut bersyukur karena mereka diberi karunia istimewa ini? Atau apakah Anda juga akan merasa iri dan kesal? Sejujurnya, kebanyakan dari kita akan bergumul dengan rasa iri dalam situasi ini.
Namun, kesadaran itu adalah suatu rahmat. Menyadari adanya dosa iri hati yang buruk itu merupakan suatu rahmat. Sekalipun kita tidak sungguh-sungguh berada dalam situasi yang membuat kita bertindak atas dasar rasa iri, menyadari bahwa rasa iri itu ada dalam diri kita merupakan suatu rahmat.
Renungkanlah hari ini apakah Anda melihat jejak-jejak iri hati dalam hati Anda. Dapatkah Anda dengan tulus bersukacita dan dipenuhi rasa syukur yang besar atas keberhasilan orang lain? Dapatkah Anda dengan tulus bersyukur kepada Allah ketika orang lain diberkati melalui kemurahan hati sesama yang tak terduga dan bukan karena jasa mereka? Jika hal ini menjadi suatu pergumulan, setidaknya bersyukurlah kepada Allah karena Anda disadarkan akan hal ini. Iri hati adalah dosa, dan dosa ini membuat kita tidak puas dan sedih. Anda patut bersyukur karena dapat melihatnya, sebab itulah langkah pertama untuk mengatasinya.
Tuhanku yang mahamurah, aku memang berdosa dan dengan jujur mengakui bahwa ada rasa iri di dalam hatiku. Terima kasih karena telah membantuku melihat hal ini, dan bantulah aku sekarang untuk menyerahkannya kepada-Mu. Sudilah menggantinya dengan rasa syukur yang tulus atas rahmat dan belas kasih berlimpah yang Engkau anugerahkan kepada orang lain. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Tanpa Kasih…
Kamis Pekan Biasa XX
“Para hamba itu pergi ke jalan-jalan dan mengumpulkan semua orang yang mereka temui, yang jahat maupun yang baik, dan ruangan pesta itu pun penuh dengan para tamu. Tetapi ketika raja masuk untuk menemui para tamu, ia melihat seorang di sana yang tidak mengenakan pakaian pesta pernikahan. Ia berkata kepadanya, ‘Sahabat, bagaimana engkau dapat masuk ke sini tanpa mengenakan pakaian pesta pernikahan?’ Tetapi orang itu terdiam tak mampu menjawab. Lalu raja berkata kepada para pelayannya, ‘Ikatlah tangan dan kakinya, dan campakkanlah dia ke dalam kegelapan di luar, tempat akan ada ratapan dan kertakan gigi.’ Banyak yang diundang, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius 22:10-14
Pada awalnya, hal ini mungkin cukup mengejutkan. Dalam perumpamaan ini, sang raja mengundang banyak orang ke perjamuan nikah putranya. Banyak yang menolak undangan itu. Lalu ia mengutus hamba-hambanya untuk mengumpulkan siapa saja yang mau datang, dan penuhlah ruang perjamuan itu. Namun, ketika sang raja masuk, ada seorang yang tidak mengenakan pakaian pesta, dan kita dapat melihat apa yang terjadi padanya dalam kutipan di atas.
Sekali lagi, ketika pertama kali dibaca, hal ini mungkin agak mengejutkan. Apakah orang ini sungguh pantas diikat tangan dan kakinya lalu dilemparkan ke dalam kegelapan di luar, tempat ada ratapan dan kertakan gigi, hanya karena ia tidak mengenakan pakaian yang semestinya? Tentu saja tidak.
Untuk memahami perumpamaan ini, kita perlu memahami makna simbolis pakaian pesta itu. Pakaian ini melambangkan seseorang yang mengenakan Kristus dan, secara khusus, seseorang yang karena itu dipenuhi kasih. Ada pelajaran yang sangat menarik yang dapat kita petik dari kutipan ini.
Pertama, kehadiran orang ini di perjamuan nikah berarti ia telah menanggapi undangan itu. Ini merupakan tanda iman. Jadi, orang ini memang melambangkan seseorang yang memiliki iman. Kedua, tidak dikenakannya pakaian pesta berarti bahwa ia adalah seseorang yang memiliki iman dan memercayai segala yang Allah katakan, tetapi belum membiarkan iman itu meresapi hati dan jiwanya hingga menghasilkan pertobatan sejati dan, karena itu, kasih yang sejati. Ketiadaan kasih dalam diri pemuda itulah yang membuatnya dijatuhi hukuman.
Hal yang menarik adalah bahwa kita mungkin memiliki iman, tetapi tidak memiliki kasih. Iman berarti memercayai apa yang Allah wahyukan kepada kita. Namun, setan-setan pun percaya! Kasih menuntut kita untuk menerima kebenaran itu di dalam batin dan membiarkannya mengubah hidup kita. Hal ini penting untuk dipahami karena terkadang kita dapat bergumul dengan situasi yang sama. Ada kalanya kita mendapati bahwa kita percaya pada tataran iman, tetapi tidak menghayatinya. Keduanya diperlukan untuk menjalani hidup dalam kekudusan yang sejati.
Renungkanlah hari ini baik iman Anda akan segala yang telah Allah firmankan maupun kasih yang diharapkan tumbuh dari iman itu dalam hidup Anda. Menjadi seorang Kristiani berarti Anda membiarkan iman Anda meresap dari pikiran ke dalam hati dan kehendak Anda.
Tuhan sumber segala kasih, semoga aku memiliki iman yang mendalam kepada-Mu dan kepada segala yang telah Engkau firmankan. Semoga iman itu meresap ke dalam hatiku dan menghasilkan kasih kepada-Mu dan sesama. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Berkomitmen Sepenuh Hati!
Jumat Pekan Biasa XX
Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membungkam orang-orang Saduki, berkumpullah mereka, dan seorang dari antara mereka, seorang ahli Taurat, mencobai Dia dengan bertanya, “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Matius 22:34-37
“Dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.” Dengan kata lain, dengan seluruh diri Anda!
Seperti apakah kedalaman kasih ini dalam praktiknya? Hal ini mudah menjadi sekadar pemikiran luhur atau khotbah yang penuh kata-kata, tetapi membiarkan pemikiran atau khotbah ini menjadi kesaksian melalui tindakan kita merupakan suatu tantangan. Apakah Anda mengasihi Allah dengan seluruh diri Anda? Dengan setiap bagian dari diri Anda? Apa tepatnya makna hal itu?
Kedalaman kasih ini mungkin akan terwujud dalam banyak cara. Berikut ini beberapa ciri yang akan tampak dalam kasih tersebut:
1) Penyerahan diri: Menyerahkan hidup kita kepada Allah merupakan suatu tuntutan kasih. Allah itu sempurna dan, karena itu, mengasihi-Nya menuntut kita untuk melihat kesempurnaan-Nya, memahami kesempurnaan ini, dan bertindak sesuai dengannya. Ketika kita melihat dan memahami siapa Allah itu, konsekuensinya adalah kita harus percaya kepada-Nya sepenuhnya dan tanpa syarat. Allah itu mahakuasa dan mahakasih. Allah yang mahakuasa dan mahakasih harus dipercaya tanpa batas.
2) Api batin: Penyerahan diri kita akan mengobarkan hati kita! Ini berarti kita akan melihat Roh Kudus melakukan hal-hal yang menakjubkan di dalam jiwa kita. Kita akan melihat Allah bertindak dan mengubah kita. Hal itu akan melampaui apa pun yang dapat kita lakukan terhadap diri kita sendiri. Allah akan mengambil kendali dan melakukan hal-hal besar dalam diri kita, mengubah hidup kita, seperti api yang berkobar dan melalap segalanya.
3) Tindakan yang melampaui kemampuan Anda: Dampak dari api Roh Kudus yang berkobar dalam diri kita adalah bahwa Allah akan melakukan hal-hal besar dalam kehidupan orang-orang di sekitar kita melalui diri kita. Kita akan menyaksikan Allah berkarya dan kagum akan apa yang dilakukan-Nya. Kita akan menyaksikan sendiri kuasa-Nya yang menakjubkan dan kasih-Nya yang mengubah, dan semua itu akan terjadi melalui diri kita. Sungguh suatu anugerah!
Renungkanlah hari ini kasih Anda yang seutuhnya kepada Allah. Apakah Anda sungguh-sungguh memberikan seluruh diri Anda? Apakah Anda berkomitmen sepenuhnya untuk melayani Tuhan kita dan kehendak-Nya yang kudus? Jangan ragu. Semua itu sungguh sepadan!
Tuhan, bantulah aku untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati, akal budi, jiwa, dan kekuatanku. Bantulah aku untuk mengasihi-Mu dengan seluruh diriku. Dalam kasih itu, aku memohon agar Engkau mengubahku menjadi sarana rahmat-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu!
Bunda Kita yang Terberkati
Sabtu Pekan Biasa XX
“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Karena itu, lakukanlah dan taatilah segala sesuatu yang mereka katakan kepada Anda, tetapi janganlah mengikuti teladan mereka. Sebab mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat yang sukar dipikul dan meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menggerakkan satu jari pun untuk memindahkannya. Segala pekerjaan mereka dilakukan supaya dilihat orang. Mereka melebarkan tali sembahyang dan memanjangkan jumbai-jumbai mereka. Mereka menyukai tempat-tempat terhormat dalam perjamuan, tempat-tempat duduk terdepan di rumah ibadat, penghormatan di pasar, dan sapaan ‘Rabi.’” Matius 23:2-7
Secara tradisional, hari Sabtu dikhususkan untuk menghormati Bunda Maria. Betapa besar perbedaan antara orang-orang Farisi dan Bunda Maria, Ratu Surga dan Bumi!
Pertama, mari kita melihat orang-orang Farisi. Mereka terus-menerus dikecam oleh Yesus karena kesombongan dan sikap merasa diri benar. Mereka memanjatkan doa kepada diri mereka sendiri, mencari tempat-tempat kehormatan, menuntut penghormatan dari orang lain, dan sepenuhnya tenggelam dalam kepentingan diri sendiri. Kecaman Yesus yang terus-menerus terhadap mereka merupakan tindakan belas kasih-Nya. Itulah cara-Nya berusaha membebaskan mereka dari kesombongan dan membantu mereka melihat terang kebenaran.
Kedua, kita membandingkan hal ini dengan Bunda Maria. Kerendahan hatinya melampaui apa yang dapat dibayangkan. Dialah Yang Dikandung Tanpa Noda…sempurna dalam segala hal. Segala keutamaan ada di dalam jiwanya. Dialah Hawa Baru, Bunda baru dari semua yang hidup. Dan ia dihormati untuk selama-lamanya sebagai Ratu Surga dan Bumi.
Perbedaan yang begitu mencolok itu tampak dalam cara hidupnya. Hal ini terlihat dari kenyataan bahwa ia sepenuhnya berhak meninggikan diri serta mengharapkan penghormatan dan penghargaan sepanjang hidupnya. Namun, dalam kerendahan hatinya, ia tidak menuntut hak tersebut. Ia membiarkan dirinya tetap tersembunyi dan bahkan diejek karena hamil di luar nikah. Dalam segala hal, ia tidak seperti orang-orang Farisi.
Namun kini, untuk selama-lamanya, Allah telah meninggikannya. Ia akan selamanya dipandang sebagai Ratu serta dihormati dan dikasihi oleh semua orang. Segala keutamaannya akan senantiasa bersinar, sebab ia telah diberi ganjaran dan ditinggikan sehingga semua orang dapat melihatnya.
Renungkanlah hari ini: Anda lebih menyerupai siapa? Apakah Anda lebih menyerupai orang-orang Farisi yang berusaha meninggikan diri? Ataukah Anda lebih menyerupai Bunda Maria yang Terberkati, yang merendahkan dirinya? Pilihlah untuk meneladan Bunda Maria yang Terberkati, dan Allah juga akan memberi Anda ganjaran abadi!
Tuhan, semoga aku melihat keindahan dan keagungan jiwa Bunda-Mu. Semoga aku mengasihi dan menghormatinya. Dan dalam kasih serta penghormatan itu, semoga aku meneladannya dalam segala hal. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Juga Tersedia dalam Format Buku Sampul Lunak & Buku Elektronik
