Rabu dalam Pekan Suci
Kemarin, Injil dalam Misa mengisahkan pengkhianatan Yudas menurut Santo Yohanes, dan hari ini kita mendengar kisahnya menurut Santo Matius. Dalam Injil Matius, Yudas berbicara sebelum menyangkal Tuhan kita. Yesus mengatakan kepada para murid bahwa salah seorang dari mereka akan mengkhianati-Nya. Masing-masing berkata, “Bukan aku, ya Tuhan?” Yesus menjawab, “Dia yang mencelupkan tangannya ke dalam pinggan bersama-Ku, dialah yang akan mengkhianati Aku. Anak Manusia memang pergi, seperti yang tertulis tentang Dia, tetapi celakalah orang yang mengkhianati Anak Manusia. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak pernah dilahirkan.” Akhirnya, tanggapan Yudas dicatat, “Bukan aku, ya Rabi?” Yesus menjawab, “Engkau telah mengatakannya” (lihat Matius 26:14–25).
Yudas sedang menyangkal kenyataan. Konon kata bahasa Inggris “denial” (penyangkalan) mudah diingat sebagai akronim: “don’t even know I am lying,” yang berarti “bahkan tidak sadar bahwa saya sedang berbohong.” Mungkin Yudas bahkan tidak menyadari apa yang akan dilakukannya dan akibatnya yang kekal: “Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak pernah dilahirkan.” Itu adalah kata-kata Tuhan kita yang begitu kuat dan mengguncangkan.
Dalam mahakarya rohaninya, Latihan Rohani, Santo Ignatius dari Loyola menyajikan kerangka retret selama tiga puluh hari, beserta pelajaran dan aturan bagi pembimbing rohani yang mendampingi peserta retret. Santo Ignatius menawarkan renungan untuk setiap hari dalam retret yang dibagi menjadi empat masa tersebut. Masa pertama menuntun peserta retret melalui serangkaian renungan tentang dosa, terutama dosa berat dan akibatnya yang kekal, dengan cara yang gamblang dan konkret. Meskipun meditasi-meditasi itu mungkin tidak mudah dihadapi, buahnya sungguh berlimpah. Pola retret tiga puluh hari yang disusun Ignatius ini sering dianggap sebagai pola yang ideal bagi mereka yang ingin maju dalam kehidupan rohani.
Salah satu alasan utama Ignatius mengawali retret dengan berfokus pada dosa berat dan akibatnya yang kekal adalah untuk menyentakkan para peserta retret agar keluar dari segala penyangkalan mereka. Meditasi-meditasinya yang menggugah pada awalnya dapat mengejutkan, tetapi kemudian menuntun jiwa untuk berpijak kokoh pada kenyataan selama sisa retret itu dan sesudahnya.
Ketika kita mendekati Trihari Suci dan bersiap untuk merenungkan secara mendalam sengsara batin Yesus di taman, penangkapan-Nya, pemenjaraan-Nya, penderaan-Nya, olok-olok yang ditujukan kepada-Nya, penjatuhan hukuman atas-Nya, perjalanan-Nya memanggul salib, dan penyaliban-Nya, persiapkanlah diri Anda untuk menatap kedahsyatan mengerikan dari apa yang ditanggung Tuhan kita yang ilahi. Persiapkanlah diri Anda untuk melihat penderitaan-Nya yang luar biasa sebagai akibat dari dosa-dosa yang telah Anda lakukan. Kesadaran yang lebih mendalam akan rasa sakit Yesus akan membantu Anda lebih mudah menghadapi segala penyangkalan yang saat ini masih Anda gumuli sehubungan dengan dosa-dosa Anda. Hal itu juga akan membantu Anda bertumbuh dalam rasa syukur yang mendalam kepada Allah atas apa yang telah dilakukan-Nya bagi Anda, untuk membebaskan Anda dan menarik Anda masuk ke dalam kemuliaan Kerajaan-Nya yang kekal. Menghadapi kenyataan dosa Anda dan akibat dosa-dosa itu akan membangkitkan semangat serta membanjiri jiwa Anda dengan sukacita, hanya jika Anda juga memandang kurban Tuhan kita sebagai satu-satunya penawar. Hadapilah dosa Anda dan penawar yang diberikan Tuhan kita dengan kejujuran, ketelitian, dan rasa syukur yang mendalam.
Renungkanlah keadaan jiwa Anda sendiri hari ini, terutama hati nurani Anda. Terbukalah terhadap apa pun yang ingin Tuhan kita sampaikan kepada Anda. Renungkanlah penyangkalan Yudas ketika ia berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Tempuhlah jalan yang berbeda dari Yudas dengan mengakui kesalahan Anda di hadapan Tuhan kita serta kebutuhan Anda akan kerahiman yang telah diperoleh-Nya pada Pekan Suci yang pertama itu.
Tuhanku yang menderita, tidak seperti Yudas, aku mengakui di hadapan-Mu, “Sungguh, akulah orangnya, ya Rabi!” Aku bersalah. Itulah sebabnya aku membutuhkan segala yang telah Engkau peroleh bagiku melalui Sengsara-Mu. Aku mengakui kesalahanku dan berdoa agar aku ditarik keluar dari segala penyangkalan, sehingga hatiku dipenuhi rasa syukur yang mendalam atas apa yang telah Engkau derita bagiku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Lihat juga: Hari Ketiga Puluh Tujuh: 40 Hari di Kaki Salib
