Bahasa Indonesia

Pekan Biasa XVII

Menemukan Allah

Hari Minggu Biasa XVII, Tahun A

“Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan seseorang lalu disembunyikannya kembali. Karena sukacitanya, ia pergi menjual segala yang dimilikinya lalu membeli ladang itu.”  Matius 13:44

Ada tiga hal yang dapat direnungkan dari perikop ini: 1) Kerajaan Allah itu seperti sebuah “harta”; 2) Harta itu tersembunyi, menunggu untuk ditemukan; 3) Ketika ditemukan, harta itu begitu berharga sehingga layak bagi kita untuk melepaskan segala yang kita miliki demi memperolehnya.

Pertama, ada baiknya kita merenungkan gambaran Kerajaan Allah sebagai sebuah harta.  Gambaran tentang harta mengandung berbagai pelajaran.  Harta sering dianggap cukup untuk menjadikan seseorang kaya jika ia menemukannya.  Seandainya nilainya tidak begitu besar, harta itu tidak akan dianggap sebagai harta yang berharga.  Karena itu, pelajaran pertama yang perlu kita petik adalah bahwa nilai Kerajaan Allah sungguh besar.  Bahkan, nilainya tak terhingga.  Namun, begitu banyak orang memandangnya sebagai sesuatu yang tidak diinginkan dan memilih banyak “harta” lain sebagai gantinya.

Kedua, harta itu tersembunyi. Harta itu tersembunyi bukan dalam arti bahwa Allah tidak ingin kita menemukannya; sebaliknya, harta itu tersembunyi dalam arti bahwa Allah sungguh ingin kita menemukannya. Harta itu menanti kita, menanti untuk ditemukan dan disambut dengan sukacita ketika ditemukan. Hal ini juga mengungkapkan betapa besar kegembiraan seseorang ketika sungguh-sungguh menemukan Kerajaan Allah di tengah-tengah kita.

Ketiga, ketika seseorang menemukan kekayaan Kerajaan Allah dan kekayaan hidup dalam rahmat, pengalaman itu seharusnya begitu menakjubkan sehingga ia hampir tidak ragu untuk memilih melepaskan segala sesuatu demi memperoleh apa yang telah ditemukannya. Betapa besar sukacita yang timbul ketika seseorang menyadari kehidupan dalam rahmat dan belas kasih! Penemuan ini akan mengubah hidup seseorang dan menuntunnya untuk meninggalkan segala hal lain demi mengejar harta baru yang telah ditemukan itu.

Renungkanlah hari ini pengalaman Anda sendiri dalam menemukan Kerajaan Allah.  Sudahkah Anda membiarkan diri Anda dipenuhi kekaguman akan nilai harta ini?  Jika sudah, apakah Anda juga telah membiarkan penemuan akan kehidupan dalam rahmat ini begitu memikat hati Anda sehingga Anda siap dan rela melepaskan segala sesuatu untuk memperolehnya?  Arahkanlah pandangan Anda pada anugerah yang tak ternilai ini dan biarkanlah Tuhan menuntun Anda dalam mengupayakannya.

Tuhanku dan Hartaku yang paling berharga, aku mengasihi-Mu dan bersyukur kepada-Mu atas harta Kerajaan yang telah Engkau siapkan bagiku. Bantulah aku agar setiap hari dapat menemukan harta tersembunyi ini dengan semakin utuh dan semakin penuh kekaguman. Saat aku menemukan harta ini, berilah aku keberanian yang kubutuhkan untuk meninggalkan segala usaha lain yang mementingkan diri sendiri dalam hidupku, agar aku dapat mencari karunia yang satu-satunya ini. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Menghadapi yang “Mustahil?”

Hari Minggu Biasa XVII, Tahun B

“Di sini ada seorang anak laki-laki yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apalah artinya semua itu untuk orang sebanyak ini?” Yesus berkata, “Suruhlah orang-orang itu duduk.”  Yohanes 6:9-10a

Pernahkah Anda menghadapi sesuatu yang tampaknya merupakan “situasi yang mustahil”?  Yesus pernah menghadapinya, tetapi Ia membuktikan bahwa Ia dapat mengatasi setiap hal yang tampak sebagai rintangan, jika Ia menghendakinya.  Tentu, Ia adalah Allah, tetapi kenyataannya tetaplah bahwa Ia dapat melakukan segala yang dikehendaki-Nya.  Dan Ia juga dapat melakukannya dalam hidup kita!

Perikop di atas mengungkapkan keyakinan-Nya akan kemampuan-Nya untuk memberi makan ribuan orang hanya dengan lima roti dan dua ikan.  Secara manusiawi hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah, hal ini mudah.

Mukjizat Yesus menyatakan komitmen-Nya untuk “memberi kita makan” dalam segala hal.  Ya, dalam peristiwa ini Ia memberikan makanan, tetapi hal itu melambangkan bahwa Ia mampu dan bersedia memberi santapan bagi jiwa kita dengan rahmat-Nya untuk menghadapi kesulitan atau tantangan apa pun yang datang dalam hidup kita.  Rahmat-Nya cukup!

Sering kali ada dua masalah.  Pertama, kita menghadapi suatu tantangan dalam hidup dan memandangnya sebagai sesuatu yang tidak kita ketahui cara mengatasinya.  Hal ini dapat membuat kita putus asa dan kecewa.  Namun, ketika ini terjadi, kita harus merenungkan mukjizat seperti ini dan menyadari bahwa segala sesuatu mungkin bagi Allah.

Masalah kedua yang sering kita hadapi adalah kemampuan untuk membedakan antara kehendak Allah dan gagasan kita sendiri yang terbatas. Terlalu sering kita mengemukakan gagasan kita sendiri tentang apa yang kita anggap baik dan benar, lalu mulai berdoa untuk hal itu. Namun, bagaimana jika gagasan dan kehendak Allah sangat berbeda dan, tentu saja, jauh lebih besar?! Bagaimana jika Allah memiliki rencana yang tidak pernah dapat kita pikirkan sendiri? Kenyataannya, Dia memang memiliki rencana bagi hidup kita yang jauh lebih sempurna daripada apa pun yang dapat kita bayangkan. Dia tahu apa yang terbaik bagi kita dan Dia dapat mewujudkan rencana itu. Dari pihak kita, kita harus mencari rencana itu, berserah kepadanya, dan beriman akan kasih, belas kasih, serta kuasa-Nya yang sempurna.

Renungkanlah hari ini masa depan Anda. Hal apa yang tampaknya paling mengkhawatirkan Anda? Hal apa yang tampaknya memenuhi hati Anda dengan kecemasan? Allah memiliki rencana yang sempurna untuk situasi itu. Tugas Anda adalah mencari rencana itu dan percaya bahwa rencana tersebut akan terwujud.

Tuhan yang kebijaksanaan-Nya sempurna, aku tahu Engkau dapat melakukan segala sesuatu dan bahwa Engkau menghendaki kebaikan dalam segala hal. Bantulah aku untuk berpaling kepada kehendak ilahi-Mu yang sempurna dan berserah kepadanya. Saat aku berserah, bantulah aku untuk memiliki iman yang sempurna bahwa Engkau akan mewujudkan kehendak-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Berdoa agar Kehendak Allah Terlaksana

Hari Minggu Biasa XVII, Tahun C

“Dan Aku berkata kepadamu: mintalah, maka kamu akan menerima; carilah, maka kamu akan menemukan; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”  Lukas 11:9

Jika kita memahami pernyataan Yesus ini secara sangat harfiah, kita dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa Yesus akan memberikan apa saja yang kita minta dalam doa. Namun, kita tahu bahwa bukan itu yang terjadi. Mungkin setiap orang pernah berdoa dengan sungguh-sungguh untuk suatu hal, tetapi permohonannya tidak dijawab seperti yang diinginkannya. Mengapa demikian? Apakah kita hanya kurang beriman dalam berdoa? Akankah Yesus melakukan apa pun yang kita minta kepada-Nya apabila kita mendoakannya dengan segenap daya kita? Tentu saja tidak.

Perikop ini selanjutnya mengatakan, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapa yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Lukas 11:13). Dalam konteks ini, dan dalam konteks segala sesuatu yang telah Yesus ajarkan kepada kita, penting untuk mengetahui bahwa hanya ada satu hal yang patut kita mohonkan dalam doa. Dan ketika kita berdoa memohon satu hal ini dengan iman, kita dapat yakin bahwa kita akan memperolehnya. Apakah satu hal itu? Kehendak Allah.

Jika kita dengan tulus dan sepenuh hati memohon serta mencari kehendak Allah, kita dapat yakin bahwa Tuhan kita akan memberikan Roh Kudus kepada kita, dan Roh Kudus kemudian akan menuntun kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Masalahnya, terlalu sering kita justru berdoa agar “kehendakKU yang terjadi,” bukan “kehendak-MU yang terjadi.” Ini merupakan perbedaan yang penting.

Pada akhirnya, doa sejati adalah tentang kepercayaan dan penyerahan diri kepada Allah. Kita percaya pada rencana-Nya yang sempurna dan menyerahkan diri kepada rencana sempurna itu dalam hidup kita. Ketika kita melakukannya, kita dapat yakin bahwa Tuhan akan mendengar dan menjawab doa yang sempurna ini.

Renungkanlah hari ini permohonan sederhana dalam doa Bapa Kami ini: Jadilah kehendak-Mu! Berusahalah untuk percaya pada rencana Allah yang sempurna bagi hidup Anda dan lakukanlah segala yang Anda bisa untuk berserah kepada rencana itu. Dengan bentuk doa ini, kita dapat yakin bahwa Roh Kudus akan datang kepada kita dan menuntun kita masuk ke dalam kehendak-Nya yang kudus.

Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami, dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Dapatkah Anda Membawa Perubahan?

Senin Pekan Biasa XVII

“Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi yang diambil seseorang lalu ditaburkan di ladangnya. Biji itu memang yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, tumbuhan itu menjadi yang paling besar di antara segala tanaman. Tumbuhan itu menjadi semak yang besar, dan burung-burung di langit datang serta bersarang pada cabang-cabangnya.” Matius 13:31b-32

Terlalu sering kita cenderung merasa seolah-olah hidup kita jauh kurang penting dibandingkan hidup orang lain. Kita sering memandang orang lain yang jauh lebih “berkuasa” dan “berpengaruh”. Kita cenderung bermimpi menjadi seperti mereka. Bagaimana seandainya aku memiliki uang sebanyak mereka? Atau seandainya aku memiliki status sosial mereka? Atau seandainya aku memiliki pekerjaan mereka? Atau sama populernya dengan mereka? Terlalu sering kita jatuh ke dalam perangkap “seandainya”.

Kutipan di atas mengungkapkan kenyataan yang mutlak bahwa Allah ingin memakai hidup Anda untuk hal-hal besar! Biji yang paling kecil menjadi semak yang paling besar. Hal ini mengundang pertanyaan, “Apakah terkadang Anda merasa seperti biji yang paling kecil?”

Wajar jika terkadang kita merasa tidak berarti dan berharap diri kita bisa menjadi “lebih.” Namun, ini tidak lebih dari angan-angan duniawi yang keliru. Kenyataannya, kita masing-masing mampu membawa perubahan yang SANGAT BESAR di dunia ini. Memang, kita mungkin tidak akan tampil dalam siaran berita malam atau menerima penghargaan nasional atas kebesaran kita, tetapi di mata Allah, kita memiliki potensi yang melampaui apa pun yang dapat kita angan-angankan.

Lihatlah hal ini dalam perspektif yang tepat. Apakah kebesaran itu? Apa artinya diubah oleh Allah menjadi “tanaman yang paling besar” seperti biji sesawi? Itu berarti kita diberi hak istimewa yang luar biasa untuk menggenapi rencana Allah yang tepat, sempurna, dan mulia bagi hidup kita. Rencana inilah yang akan menghasilkan buah kekal yang terbaik dan paling berlimpah. Memang, nama kita mungkin tidak dikenal di bumi ini. Tetapi, lalu kenapa?! Apakah itu sungguh penting? Ketika Anda berada di Surga, apakah Anda akan bersedih karena dunia tidak mengenal Anda dan peran Anda? Tentu saja tidak. Di Surga, yang penting hanyalah seberapa kudus Anda telah menjadi dan seberapa sepenuhnya Anda telah menggenapi rencana ilahi bagi hidup Anda.

Santa Bunda Teresa sering berkata, “Kita dipanggil untuk setia, bukan untuk berhasil.” Kesetiaan kepada kehendak Allah inilah yang penting.

Renungkanlah dua hal hari ini. Pertama, renungkanlah “kekecilan” Anda di hadapan misteri Allah. Dengan mengandalkan diri sendiri, Anda bukan apa-apa. Namun, dalam kerendahan hati itu, renungkanlah juga kenyataan bahwa ketika Anda hidup di dalam Kristus dan dalam kehendak ilahi-Nya, Anda menjadi agung tak terukur. Berjuanglah untuk mencapai keagungan itu, dan Anda akan diberkati untuk selama-lamanya!

Tuhan, sumber segala kebesaran, aku tahu bahwa tanpa Engkau aku bukan apa-apa. Tanpa Engkau hidupku tidak bermakna. Bantulah aku untuk menerima dengan sepenuh hati rencana-Mu yang sempurna dan mulia bagi hidupku dan, dalam rencana itu, mencapai kebesaran yang menjadi panggilan-Mu bagiku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Kemenangan Akhir!

Selasa Pekan Biasa XVII

“Seperti lalang dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga akan terjadi pada akhir zaman. Anak Manusia akan mengutus malaikat-malaikat-Nya, dan mereka akan mengumpulkan dari Kerajaan-Nya semua orang yang menyebabkan orang lain berdosa dan semua pelaku kejahatan. Mereka akan mencampakkan orang-orang itu ke dalam dapur api; di sanalah akan ada ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.”  Matius 13:40-43

Bayangkan hari itu! Bayangkan seandainya hari itu adalah besok. Jika Yesus kembali besok dan menegakkan keadilan sepenuhnya atas dunia, apakah Anda akan mengkhawatirkan ketidakadilan apa pun hari ini? Mungkin tidak. Sebaliknya, Anda akan dapat duduk dengan tenang dan merasa damai karena mengetahui bahwa keadilan akan datang.

Hari itu memang akan segera tiba.  Itulah yang dikatakan Yesus.  Memang, hal itu dikatakan hampir 2.000 tahun yang lalu, tetapi bagi-Nya, hari itu tetap akan segera tiba.  Bagi Allah, waktu dipandang dari sudut pandang kekekalan.  Karena itu, bagi Allah, akhir dunia sama nyatanya hari ini seperti ketika hal itu benar-benar terjadi.

Hal ini baik untuk diingat ketika kita melihat kejahatan merajalela dan ketidakadilan bertambah. Sangatlah mudah untuk menjadi marah dan kesal karena kemenangan-kemenangan si jahat setiap hari. Tetapi jangan takut dan jangan khawatir. Allah sungguh memegang kendali. Ia tahu apa yang Ia lakukan dan Ia akan meraih kemenangan akhir yang mulia atas segala sesuatu.

Maka, renungkanlah hal itu. Ketika Yesus kembali dalam segala kemuliaan-Nya dan memulihkan segala sesuatu sebagaimana mestinya, apakah kejahatan yang sekarang kita tanggung masih akan berarti? Sesungguhnya, dari perspektif kekekalan, kejahatan yang kita tanggung seharusnya hanya menjadi sarana untuk menumbuhkan ketabahan yang kudus dalam diri kita. Semua itu dapat dipakai oleh Allah untuk menyatakan rahmat dan kekuatan-Nya dalam hidup kita.

Renungkanlah hari ini sudut pandang kekekalan.  Jika sekarang Anda bertekun dalam segala hal, dan berusaha melakukannya dengan kesabaran dan rahmat, Anda dapat yakin bahwa segala perjuangan dan semua yang harus Anda tanggung pada akhirnya tidak akan sia-sia.  Dalam Kerajaan Allah yang baru dan mulia, Anda akan merasakan kedamaian, dan sukacita akan memenuhi hidup Anda selamanya.  Setiap kesalahan akan diluruskan dan Allah akan menang.  Pastikan Anda memiliki “telinga untuk mendengar” kebenaran ini dan berpegang teguh padanya dalam segala hal.

Tuhanku yang kekal, bantulah aku untuk tetap mengarahkan pandanganku kepada-Mu dan kemenangan akhir-Mu. Bantulah aku untuk menantikan kemenangan akhir-Mu dengan sabar dan menanggung kejahatan dunia ini dengan rahmat dan kekuatan yang Engkau berikan kepadaku. Semoga aku tidak pernah melupakan janji terakhir yang telah Engkau sampaikan kepadaku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Mutiara yang Sangat Berharga

Rabu Pekan Biasa XVII

“Demikian pula Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.  Setelah menemukan sebutir mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”  Matius 13:45-46

Ada banyak pemahaman indah yang dapat kita petik dari perikop ini.  Tentu kita dapat melihat Kerajaan Surga sebagai sesuatu yang diumpamakan dengan “Mutiara yang Sangat Berharga” itu!  Namun, perikop ini sebenarnya menyatakan bahwa Kerajaan Surga diumpamakan dengan “pedagang yang mencari mutiara yang indah.”  Kenyataan ini menyingkapkan sesuatu yang penting.

Salah satu pemahaman yang ditawarkan kepada kita di sini adalah bahwa Kerajaan Surga ditemukan dalam pencarian kita yang tekun. Kita menyelidiki misteri Surga, dan pencarian itu sendiri menghadirkan Kerajaan Allah kepada kita.

Berbicara tentang “pencarian akan Allah” adalah cara lain untuk mengatakan bahwa Allah adalah Misteri Iman yang mendalam, suatu Mysterium Fidei sebagaimana kita ucapkan dalam Misa. Karena Allah adalah “Misteri” ilahi, penting untuk memahami bahwa kita tidak pernah dapat sepenuhnya “menemukan” Allah. Tentu kita dapat menemukan-Nya, memahami-Nya, semakin mengenal-Nya, dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Namun, kita tidak pernah dapat melakukannya sepenuhnya. Kenyataannya, semakin kita mengenal Allah, semakin kita mencari-Nya, dan semakin kita mencari-Nya, semakin kita menyadari bahwa kita belum sepenuhnya mengenal-Nya. Namun, penyingkapan ini menarik kita semakin dalam ke dalam kehidupan Allah dan membawa kita semakin dekat untuk memperoleh Kerajaan Surga.

Menemukan keindahan, nilai, misteri, kuasa, dan kemuliaan Allah serta Kerajaan-Nya haruslah menjadi inti kehidupan kita.  Kita harus menghabiskan hidup ini dengan mencari, menemukan, dan terus mencari.  Inilah yang akan kita lakukan di Surga.  Surga akan menjadi saat penyingkapan sepenuhnya akan Kerajaan dan kehidupan batin Allah, tetapi dalam penyingkapan ini kita akan menemukan bahwa selama-lamanya kita akan masuk semakin dalam ke dalam Allah dan hadirat-Nya yang mulia.

Renungkanlah hari ini pencarian yang Anda jalani dalam hidup Anda.  Apakah itu merupakan pencarian akan Allah yang tekun?  Ataukah Anda mulai mengendur dalam upaya ini?  Perbaruilah tekad Anda untuk mencari Allah dengan segenap hati, dan Anda akan mendapati bahwa pencarian ini sesungguhnya merupakan penemuan akan kemuliaan Kerajaan Surga.

Rajaku yang kekal, aku mengasihi-Mu dan ingin semakin mengasihi-Mu. Penuhilah aku dengan semangat dan harapan saat aku mencari-Mu. Semoga pencarianku akan Dikau dengan sepenuh hati menyingkapkan kepadaku misteri kehidupan batin-Mu yang mulia. Ketika aku menemukan-Mu, bantulah aku untuk semakin mencari-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Keadilan Allah

Kamis Pekan Biasa XVII

“Demikianlah akan terjadi pada akhir zaman. Malaikat-malaikat akan datang dan memisahkan orang-orang jahat dari orang-orang benar, lalu mencampakkan mereka ke dalam dapur api; di sanalah akan ada ratapan dan kertakan gigi.”  Matius 13:49-50

Pernyataan itu tidak begitu menggugah saat pertama kali dibaca, bukan? Namun, pernyataan itu seharusnya menggugah kita sesuai dengan maksudnya. Maksudnya ialah menumbuhkan suatu “rasa takut yang kudus” dalam diri kita sekaligus meyakinkan kita akan keadilan Allah. Ini sungguh menggugah, hanya saja tidak dengan cara yang biasanya kita bayangkan.

Namun, terkadang kita memerlukan sedikit rasa takut yang kudus akan Allah dan keadilan-Nya dalam hidup kita. Pada zaman kita ini, dosa semakin diterima dan dianggap “normal”. Budaya di seluruh dunia tampaknya semakin sekuler. Berbagai bentuk kehidupan yang tidak bermoral tampaknya semakin marak. Akibatnya, kita mudah mulai memandang dosa sebagai sesuatu yang normal dan bahkan dapat diterima. Bahkan, ketika kita menyebut dosa sebagai dosa, dunia sering menyebut kita suka menghakimi dan penuh kebencian.

Jika terkadang Anda merasa tertekan untuk menyerah pada kebobrokan moral di sekitar Anda dan sekadar “menerimanya”, mungkin kutipan di atas akan mengilhami Anda untuk melakukan hal yang justru sebaliknya. Kebenaran mutlaknya adalah bahwa Yesus telah menyebut hal-hal tertentu sebagai dosa, dan melakukan dosa-dosa itu membawa konsekuensi yang berat.

Hal itu bisa berupa kebiasaan budaya yang sangat halus, yakni menjadikan Hari Tuhan (Minggu) sebagai hari untuk segala hal kecuali beristirahat. Atau, hal itu bisa berupa pelanggaran berat terhadap kesucian hidup perkawinan dan keluarga melalui pendefinisian ulang perkawinan. Kita masing-masing tentu akan menyadari berbagai cara yang membuat kita merasa iman kita ditantang dan bahkan diserang. Jika Anda mengalaminya, maka kutipan Kitab Suci ini ditujukan bagi Anda. Yesus sungguh serius mengenai dosa dan akibat-akibatnya. Hal itu seharusnya menggugah kita bukan hanya untuk menjalani hidup yang kudus, melainkan juga untuk melakukan segala yang kita bisa demi membantu mereka yang terjerat dalam kecenderungan budaya yang tidak teratur agar mengubah hidup mereka.

Renungkanlah hari ini, seberapa tegas Anda menentang dosa. Dosa itu jahat dan merusak. Anda harus selalu mengasihi orang yang berbuat dosa, tetapi Anda tidak boleh sekali pun mendukung atau menyetujui tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah. Berdiri teguh di tengah perlawanan budaya merupakan tindakan kasih yang besar dan suatu hari nanti mungkin membebaskan sebagian orang dari “ratapan dan kertakan gigi” yang dibicarakan Yesus.

Tuhanku yang penuh rahmat, di mana dosa berlimpah, rahmat semakin berlimpah. Rahmat-Mu begitu dibutuhkan saat ini di dunia kami dan dalam hidupku. Bantulah aku untuk tetap teguh melawan kejahatan dan dosa agar aku termasuk di antara mereka yang dikumpulkan ke dalam Kerajaan-Mu. Berilah aku keberanian untuk melakukan segala yang dapat kulakukan demi menolong mereka yang menempuh jalan kebinasaan. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Karya Allah yang Paling Dahsyat

Jumat Pekan Biasa XVII

Dan Ia tidak melakukan banyak karya penuh kuasa di situ karena ketidakpercayaan mereka. Matius 13:58

Apakah “perbuatan-perbuatan penuh kuasa” itu? Perbuatan apa yang tidak dapat banyak dilakukan Yesus di kampung halaman-Nya karena kurangnya iman? Hal pertama yang tentu terlintas dalam pikiran adalah mukjizat. Kemungkinan besar Ia tidak melakukan banyak penyembuhan, atau membangkitkan siapa pun dari antara orang mati, atau memperbanyak makanan untuk memberi makan orang banyak. Namun, apakah inilah perbuatan-perbuatan penuh kuasa yang dimaksud?

Jawaban yang tepat adalah sekaligus “Ya” dan “Tidak.” Ya, Yesus terbatas dalam melakukan mukjizat, dan tampaknya Ia hanya melakukan sangat sedikit mukjizat di kampung halaman-Nya. Namun, ada karya-karya yang biasa dilakukan Yesus yang jauh lebih “besar” daripada mukjizat jasmani. Apakah itu? Karya-karya yang mengubah jiwa.

Pada akhirnya, apa artinya jika Yesus melakukan banyak mukjizat tetapi jiwa-jiwa tidak bertobat? Manakah yang lebih “besar” dalam hal karya yang berdampak abadi dan bermakna? Tentu saja, perubahan jiwa adalah yang paling penting!

Namun sayangnya, karya-karya besar yang mengubah jiwa itu pun tidak dapat terjadi karena kurangnya iman mereka. Orang-orang itu jelas keras kepala dan tidak terbuka untuk membiarkan sabda serta kehadiran Yesus meresap ke dalam pikiran dan hati mereka. Karena itulah, Yesus tidak dapat melakukan karya-karya yang paling besar di kampung halaman-Nya.

Renungkanlah hari ini apakah Yesus sedang melakukan karya-karya besar dalam hidup Anda atau tidak. Apakah Anda membiarkan Dia mengubah Anda setiap hari menjadi ciptaan baru? Apakah Anda membiarkan Dia melakukan hal-hal besar dalam hidup Anda? Jika Anda ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan ini, itu merupakan tanda yang jelas bahwa Allah ingin melakukan jauh lebih banyak lagi dalam hidup Anda.

Tuhan Allah Yang Mahakuasa, aku berdoa agar jiwaku menjadi tanah yang subur bagi karya-Mu yang paling agung. Aku berdoa agar jiwaku diubah oleh-Mu, oleh sabda-Mu dan kehadiran-Mu dalam hidupku. Masuklah ke dalam hatiku dan ubahlah aku menjadi mahakarya rahmat-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Buah Kebencian yang Menyedihkan

Sabtu Pekan Biasa XVII

“Berikanlah kepadaku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.” Matius 14:8

Menyebutnya hari yang buruk saja belumlah cukup. Santo Yohanes Pembaptis dipenggal atas permintaan Salome, putri Herodias. Yohanes berada di penjara karena mengatakan kebenaran kepada Herodes mengenai perkawinannya, dan Herodias dipenuhi kebencian terhadap Yohanes. Maka, Herodias menyuruh putrinya menari di hadapan Herodes dan para tamunya. Herodes begitu terkesan sehingga ia menjanjikan kepada Salome hingga separuh kerajaannya. Namun, yang diminta Salome justru kepala Yohanes Pembaptis.

Bahkan sekilas saja, ini merupakan permintaan yang ganjil. Salome dijanjikan bahkan sampai setengah kerajaan, tetapi ia justru meminta kematian seorang yang baik dan kudus. Padahal, Yesus berkata tentang Yohanes bahwa di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak ada yang lebih besar daripadanya. Jadi, mengapa Herodias dan putrinya menyimpan kebencian yang sedemikian besar?

Peristiwa menyedihkan ini menggambarkan kekuatan amarah dalam bentuknya yang paling ekstrem. Ketika amarah terpendam dan semakin membesar, amarah itu menimbulkan gejolak perasaan yang begitu kuat hingga mengaburkan pikiran dan akal sehat seseorang. Kebencian dan dendam dapat menguasai seseorang dan menuntunnya pada kebodohan yang sama sekali tidak masuk akal.

Herodes juga memperlihatkan sikap yang sangat tidak masuk akal dalam peristiwa ini. Ia tertekan untuk melakukan apa yang tidak ingin dilakukannya karena ia takut melakukan hal yang benar. Ia diliputi oleh kebencian dalam hati Herodias dan, akibatnya, menyerah dan menyetujui hukuman mati atas Yohanes, yang sebenarnya tampak ia sukai dan senang ia dengarkan.

Biasanya kita berusaha memperoleh inspirasi dari teladan baik orang lain. Namun, dalam hal ini, kita mendapati bahwa kita dapat “terinspirasi” dengan cara yang berbeda. Kita hendaknya menjadikan peristiwa hukuman mati atas Yohanes sebagai kesempatan untuk mencermati segala pergumulan kita dengan amarah, rasa kesal yang terpendam, dan terutama kebencian. Kebencian adalah gejolak perasaan buruk yang dapat menyusup dan menimbulkan banyak kerusakan dalam hidup kita maupun hidup orang lain. Bahkan ketika gejolak perasaan yang tidak teratur ini baru mulai muncul, kita harus mengakuinya dalam Sakramen Tobat dan mengatasinya.

Renungkanlah hari ini apakah Anda melihat adanya kebencian dalam hati Anda. Apakah Anda terus menyimpan dendam atau kepahitan yang tak kunjung hilang? Apakah gejolak perasaan itu semakin besar dan merusak hidup Anda serta hidup orang lain? Jika demikian, bertekadlah untuk melepaskannya dan mengampuni. Itulah hal yang benar untuk dilakukan.

Tuhanku yang membebaskan, berilah aku rahmat yang kubutuhkan untuk menilik hatiku dan melihat segala kecenderungan untuk marah, memendam sakit hati, dan membenci. Sudilah memurnikan aku dari semuanya itu dan membebaskan aku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.

Pesta dan Hari Raya dalam Masa Biasa: Pekan 1-17

Daftar Isi


Juga Tersedia dalam Format Buku Sampul Lunak & Buku Elektronik

Bagikan Halaman Ini: