Bahasa Indonesia

Pekan Biasa XXIII

Keempat jilid tersedia dalam format buku cetak bersampul lunak & buku elektronik!

Daftar Isi

Berdamai dengan Sesama

Hari Minggu Biasa XXIII (Tahun A)

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: “Jika saudaramu berbuat dosa terhadap engkau, pergilah dan tegurlah dia secara pribadi, hanya antara engkau dan dia. Jika ia mendengarkan engkau, engkau telah memperoleh kembali saudaramu.” Matius 18:15

Dibutuhkan kerendahan hati yang besar dan hati yang murni untuk menegur seseorang atas dosanya sedemikian rupa sehingga ia mau mendengarkan dan bertobat. Biasanya, menegur seseorang atas dosanya lebih didorong oleh kemarahan daripada kasih. Kita tidak boleh menegur seseorang atas dosanya karena kita merasa terluka dan ingin membuatnya merasa bersalah sebagai pembalasan. Kita tidak boleh menegur seseorang untuk mempermalukan atau menyakitinya. Kita hendaknya hanya membicarakan dosa seseorang karena kita mengasihinya, telah mengampuninya, dan kini menginginkan agar ia terbebas dari dosanya demi kebaikannya sendiri. Ketika hal ini terjadi dan ketika inilah satu-satunya motivasi kita, orang tersebut mungkin akan lebih mudah menerima teguran.

Namun, ajaran ini tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang kita yang menegur orang lain atas dosa-dosa mereka. Ajaran ini juga harus dilihat dari sudut pandang orang lain yang menegur kita atas dosa-dosa kita. Kita berdosa setiap hari. Kita berdosa terhadap orang-orang yang kita kasihi setiap hari. Karena itu, cobalah membayangkan seseorang yang dekat dengan Anda menyadarkan Anda akan dosa Anda. Bagaimana reaksi Anda ketika hal ini terjadi? Mungkin jika ia melakukannya dengan motivasi yang paling murni dan penuh belas kasih, Anda akan mendengarkan. Namun, bagaimana jika ia melakukannya karena marah? Meskipun ini bukan cara yang ideal bagi seseorang untuk menegur Anda, hal itu tidak memberi Anda hak untuk menolak apa yang dikatakannya. Karena itu, mendengarkan keprihatinan siapa pun yang disampaikan kepada Anda mengenai dosa Anda, bagaimanapun cara ia menyampaikannya, merupakan latihan rohani yang baik. Jika, setelah mendengarkan dan menimbang keprihatinannya dengan rendah hati, Anda melihat bahwa ia benar, meskipun hanya sampai taraf tertentu, maka tanggapan yang penuh kasih adalah menyatakan penyesalan, meminta maaf, dan berkomitmen untuk berubah. Namun, jika setelah menimbang keprihatinannya dengan rendah hati Anda tidak yakin bahwa Anda telah berdosa, maka inilah saatnya bagi Anda untuk mencoba menegurnya dengan lembut dan penuh belas kasih atas penilaiannya yang gegabah dan keliru.

Perikop ini memberikan tiga tahap berturut-turut dalam menegur seseorang. Pertama, teguran harus disampaikan secara pribadi, hanya antara dua orang. Kedua, teguran disampaikan dengan melibatkan dua atau tiga orang lain. Ketiga, teguran disampaikan di hadapan Gereja. Untuk sementara, cobalah mengesampingkan pendekatan kedua dan ketiga, dan perhatikan hanya pendekatan pertama. Tujuan teguran secara pribadi ini adalah rekonsiliasi. Ada baiknya Anda sungguh-sungguh merenungkan seberapa baik Anda menghadapi situasi semacam ini, sebab jika Anda dapat melakukannya dengan baik, bentuk teguran kedua atau ketiga tidak akan diperlukan.

Musuh utama rekonsiliasi adalah kesombongan. Kesombongan adalah kebiasaan yang membuat kita pertama-tama dan terutama memikirkan diri sendiri, atau bahkan, dalam kasus yang paling parah, hanya memikirkan diri sendiri. Kesombongan membuat kita tidak mampu memeriksa diri. Kita menjadi buta terhadap dosa kita dan langsung gelisah begitu dosa itu ditunjukkan atau menimbulkan masalah. Tentu saja, lawan kesombongan adalah kerendahan hati. Inilah kebajikan yang memampukan kita untuk melupakan diri sendiri dan hanya memperhatikan orang lain. Ketika seseorang bertumbuh dalam kerendahan hati, si jahat akan selalu menggodanya dengan pikiran-pikiran seperti: Bagaimana dengan dirimu? Engkau benar dan mereka salah! Ini tidak adil! Engkau tidak seharusnya diperlakukan seperti ini! Pikiran-pikiran yang menggoda ini harus selalu ditolak. Kerendahan hati hanya masuk akal ketika kita rendah hati. Bagi orang yang sombong, kerendahan hati akan tampak bodoh. Namun, kerendahan hati adalah kebijaksanaan sejati.

Renungkanlah hari ini seberapa rendah hati Anda ketika seseorang menyampaikan keprihatinannya kepada Anda tentang dosa Anda. Bagaimana reaksi Anda? Apakah Anda mendapati diri Anda menjadi marah dan bersikap membela diri ketika hal ini terjadi? Jika demikian, bersikaplah jujur dan akuilah dalam diri Anda bahwa ini adalah kesombongan; ini adalah dosa Anda. Luangkanlah waktu untuk mencoba merenungkan cara yang ideal dan rendah hati untuk menanggapi ketika Anda ditegur oleh orang lain. Jika rekonsiliasi menjadi prioritas utama Anda dalam setiap hubungan yang telah terluka, maka keinginan yang kudus dan rendah hati itu akan menjadi penuntun Anda untuk dapat berdamai dengan setiap orang dalam hidup Anda.

Tuhan yang maharahim, Engkau datang ke dunia untuk mendamaikan kami dengan-Mu dan dengan satu sama lain. Tunjukkanlah kepadaku dosaku dan anugerahkanlah kerendahan hati yang kubutuhkan untuk melihatnya, agar aku dapat bertobat dan kembali kepada-Mu. Bantulah aku juga untuk terbuka terhadap berbagai cara Engkau menyingkapkan dosaku kepadaku, terutama melalui perantaraan orang lain dalam hidupku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Sarana Rahmat yang Rendah Hati

Hari Minggu Biasa XXIII (Tahun B)

Ia memasukkan jari-Nya ke dalam telinga orang itu dan, sesudah meludah, menyentuh lidahnya; lalu Ia menengadah ke langit dan menghela napas, serta berkata kepadanya, “Efata!”—artinya, “Terbukalah!”—Dan seketika itu juga telinga orang itu terbuka, gangguan bicaranya lenyap, dan ia berbicara dengan jelas. Markus 7:33–35

Satu hal yang menarik dalam kisah ini adalah bahwa orang-orang yang membawa orang tuli dan bisu ini kepada Yesus memohon kepada-Nya agar Ia “meletakkan tangan-Nya atas orang itu” untuk menyembuhkannya. Namun, apa yang Yesus lakukan? Sebaliknya, Ia membawa orang itu menjauh dari kerumunan, memasukkan jari ilahi-Nya ke dalam telinga orang itu, menyentuh lidah orang itu dengan ludah-Nya sendiri yang suci, dan orang itu pun sembuh. Pada awalnya, tindakan memasukkan jari Anda ke dalam telinga orang lain dan menyentuh lidahnya dengan ludah Anda sendiri mungkin tampak menjijikkan. Dalam keadaan biasa, memang demikian. Untuk memahami kedua tindakan ini, kita harus memahami makna simbolisnya.

Gambaran tentang jari digunakan beberapa kali dalam Kitab Suci untuk merujuk pada kuasa Allah. Dalam Kitab Keluaran, setelah tulah nyamuk, para ahli sihir Firaun mengatakan bahwa hal itu jelas dilakukan “oleh jari Allah” (Keluaran 8:19). Ketika Musa menerima Sepuluh Perintah Allah di gunung, kita tahu bahwa jari Allah jugalah yang menuliskannya (Keluaran 31:18). Dalam Kitab Daniel, sebuah jari muncul dan menuliskan pesan kenabian pada dinding (Daniel 5:5). Dalam Perjanjian Baru, Yesus mengusir setan “dengan jari Allah” (Lukas 11:20), dan dalam Injil hari ini Ia menyembuhkan pendengaran orang ini dengan jari-Nya. “Jari Allah” dipahami sebagai kuasa Allah dan tindakan Roh Kudus. Maka, dengan menggunakan jari-Nya yang kudus untuk menyembuhkan, Yesus secara simbolis menyatakan bahwa Ia sepenuhnya menjalankan kuasa Allah dan bertindak dalam kesatuan yang sempurna dengan Roh Kudus dan Bapa.

Gambaran tentang air liur juga menarik. Barangkali Anda pernah memperhatikan bahwa ketika seekor hewan terluka, ia sering menjilati lukanya. Ini merupakan naluri alami, tetapi juga sesuatu yang masuk akal. Air liur memiliki khasiat penyembuhan tertentu. Di dalamnya terkandung zat-zat antibakteri. Karena itu, jika air liur biasa dapat membantu menyembuhkan luka, air liur Yesus mampu menyembuhkan secara adikodrati. Ingatlah juga bahwa Yesus menyembuhkan seorang buta dengan meludah ke tanah, lalu mengoleskan lumpur itu pada matanya (Yohanes 9:6).

Apakah Yesus perlu menggunakan jari dan air liur-Nya untuk menyembuhkan orang ini? Tentu tidak. Ia dapat melakukannya hanya dengan memikirkannya. Namun, Ia memilih menggunakan tubuh-Nya sebagai sarana kuasa penyembuhan-Nya. Dengan berbuat demikian, Ia menyatakan kepada kita bahwa kemanusiaan Yesus menjadi sumber kesatuan antara Allah dan manusia. Bahkan jari dan air liur-Nya mempersatukan kita dengan Allah. Segala sesuatu yang ada pada Putra Allah dalam rupa manusia-Nya menyalurkan rahmat, penyembuhan, dan belas kasih. Bahkan hal yang pada mulanya mungkin tampak paling menjijikkan.

Meskipun ada banyak hal yang dapat kita petik dari perikop ini, satu hal yang tidak boleh terlewatkan ialah bahwa jika Yesus memilih menggunakan jari-Nya dan bahkan air liur-Nya untuk menyalurkan kuasa-Nya, demikian pula Ia ingin terus menggunakan anggota-anggota Tubuh-Nya untuk menyalurkan rahmat-Nya. Melalui Baptisan, Anda menjadi anggota Tubuh Kristus, yaitu Gereja. Anda adalah tangan dan kaki-Nya, mata dan suara-Nya, hati dan jari-Nya, bahkan air liur-Nya. Gagasan terakhir itu sungguh menyadarkan kita untuk rendah hati. Namun, jika Yesus dapat menggunakan air liur-Nya untuk menyembuhkan, Ia pun dapat menggunakan Anda. Jika kita dapat memahami hal itu dengan rendah hati, kita akan lebih siap menjadi sarana belas kasih ilahi-Nya bagi mereka yang membutuhkannya. Allah dapat menggunakan kita BUKAN karena kita layak digunakan. Sebaliknya, Ia dapat menggunakan kita karena Ia telah memilih untuk melakukannya, bahkan dalam keadaan kita yang paling hina sekalipun.

Renungkanlah hari ini gambaran tentang Yesus yang menyembuhkan orang tuli dan bisu ini. Jika Anda pernah merasa bahwa Allah tidak dapat menggunakan Anda, ingatlah cara Tuhan kita melakukan mukjizat ini. Jika Allah dapat menggunakan jari dan air liur-Nya, tentu Ia dapat menggunakan Anda, betapa pun tidak layak atau berdosanya Anda. Mukjizat ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah dapat menggunakan segala sesuatu demi kemuliaan-Nya semata-mata karena Ia adalah Allah. Rendahkanlah hati Anda dan persembahkanlah diri kepada Allah agar Ia menggunakan Anda seturut kehendak-Nya. Dengan berbuat demikian, Anda memberi Allah kesempatan untuk menyatakan kuasa-Nya yang mahakuasa melalui diri Anda.

Tuhanku yang menyembuhkan, ketika Engkau mengambil rupa manusia, Engkau mempersatukan keilahian dengan kemanusiaan. Melalui kemanusiaan-Mu yang kudus, Engkau mencurahkan rahmat dan belas kasih-Mu dan terus melakukannya hingga hari ini. Sudilah menggunakan aku, ya Tuhan terkasih, sebagai sarana rahmat-Mu. Semoga aku selalu dengan rendah hati memandang diriku sebagai sarana-Mu yang tidak layak, yang Engkau pilih untuk digunakan meskipun aku tidak layak. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


“Membenci” agar Dapat Mengasihi

Hari Minggu Biasa XXIII (Tahun C)

Banyak orang berduyun-duyun berjalan bersama Yesus. Ia berpaling dan berkata kepada mereka, “Jika seseorang datang kepada-Ku tanpa membenci bapa dan ibunya, istri dan anak-anaknya, saudara-saudara laki-laki dan perempuannya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Lukas 14:25–26

Mengapa Yesus menyerukan kepada “orang banyak” itu untuk membenci keluarga mereka? Sesungguhnya, Yesus melangkah lebih jauh lagi. Ia berkata bahwa mereka juga harus membenci nyawa mereka sendiri. Jika tidak, mereka tidak dapat menjadi murid-murid-Nya. Salah satu dampak ajaran yang mengejutkan ini ialah menggugah orang dari iman mereka yang suam-suam kuku. Terkadang kita memandang Yesus hanya sebagai sosok yang baik hati dan lemah lembut, yang selalu mencerahkan hari-hari orang lain. Kita melihat lukisan-lukisan Yesus yang tersenyum, yang selalu membuat orang merasa diterima dan dikasihi. Meskipun gambaran-gambaran ini mengandung kebenaran, benar pula bahwa salah satu cara-Nya mencerahkan hari-hari mereka adalah dengan menantang mereka hingga ke lubuk terdalam diri mereka untuk bertobat. Dan itulah yang Yesus lakukan dalam Injil kita hari ini.

Membenci ayah, ibu, anak-anak, saudara-saudari, dan bahkan diri Anda sendiri jelas tidak merujuk pada dosa kebencian yang timbul dari kemarahan. Dalam hal ini, kata “membenci” merujuk pada cara terbaik untuk mengasihi sesama dan bahkan diri Anda sendiri. Sebagai awal, mari kita melihat kesimpulannya. Yesus berkata bahwa bentuk kebencian ini merupakan syarat untuk menjadi murid-Nya. Inilah kuncinya. Jika kita tidak pertama-tama dan terutama menjadi murid Kristus, kita tidak dapat mengasihi sesama dan bahkan tidak akan mengasihi diri sendiri dengan cara yang benar. “Membenci” dalam konteks ini berkaitan dengan kelekatan yang egois. Artinya, orang dan berbagai hal dapat dengan mudah menghalangi kasih kita kepada Allah. Ketika itu terjadi, kita harus melihatnya sebagai penghalang baik bagi kasih kepada Allah maupun bagi kasih yang sejati kepada sesama dan bahkan diri sendiri. Misalnya, jika seorang anggota keluarga dengan cara tertentu menuntut agar Anda mengasihinya lebih daripada Anda mengasihi Allah, tuntutan ini harus ditolak dengan tegas dan penuh semangat. Hal ini dapat disebut sebagai kebencian yang kudus terhadap godaan itu, bukan terhadap orangnya. Katakanlah pasangan Anda mengkritik Anda karena menghadiri Misa dan berusaha menghalangi Anda untuk melakukannya. Jika Anda mendengarkannya, Anda menempatkannya di atas Allah. Atau, katakanlah seseorang menyakiti Anda dan Anda memilih untuk mengampuninya, tetapi seorang anggota keluarga justru menentang Anda dan berusaha membangkitkan kemarahan Anda terhadap orang itu. Jika Anda mendengarkan anggota keluarga tersebut, Anda tidak sedang mendengarkan Allah. Dalam keadaan-keadaan ini, kita harus “membenci” dalam arti menolak godaan itu.

Bagaimana dengan diri Anda sendiri? Bagaimana Anda membenci diri sendiri? Hal ini merujuk pada berbagai cara dorongan kita yang tidak teratur tertarik kepada dosa. Jika kita menuruti keinginan-keinginan yang tidak teratur itu, atau lebih buruk lagi, jika kita menganggapnya wajar dan baik bagi kita, kita telah memilih keinginan yang tidak teratur itu daripada Allah. Dalam hal itu, kita harus belajar membenci dan menolak keinginan yang egois dan tidak teratur tersebut, serta memilih hanya Allah dan kehendak-Nya.

Ketika kita mampu memilih untuk menempatkan kasih kepada Allah sebagai yang pertama dan terutama dalam hidup kita, dengan menolak godaan-godaan yang datang melalui orang lain dan bahkan godaan-godaan dalam keinginan kita yang tidak teratur, maka pada saat itulah, dan hanya pada saat itulah, kita dapat mengasihi sesama dan diri sendiri dengan cara yang benar. Yesus jelas menghendaki agar kita mengasihi sesama dan diri sendiri. Namun, hal ini hanya mungkin jika kasih kita murni dan kudus serta mengalir dari kasih Allah. Bentuk “kasih” lainnya sama sekali bukanlah kasih. Itu adalah kelekatan egois yang menghalangi perutusan sejati kita sebagai orang-orang yang mengasihi Allah dan menjadi sarana kasih itu bagi sesama.

Renungkanlah hari ini semangat yang harus Anda miliki untuk menolak segala bentuk dosa. Ini mencakup dosa yang menggoda Anda melalui perantaraan keluarga dan teman-teman Anda. Ini juga mencakup setiap bentuk godaan yang timbul dalam diri Anda karena kodrat manusiawi Anda yang tidak teratur. Kebencian yang kudus ini merupakan suatu tindakan kasih karena berupaya menyingkirkan segala sesuatu yang menjauhkan Anda dari kasih sejati. Pilihlah hari ini untuk menjadi murid Yesus yang setia dan berkomitmenlah untuk menolak segala sesuatu yang berusaha menghalangi pilihan ini. Dengan demikian, Anda tidak hanya akan bertumbuh dalam kasih kepada Allah, tetapi juga dalam kasih kepada sesama, dan bahkan dalam kasih kepada jiwa Anda sendiri.

Tuhanku yang penuh semangat, Engkau telah menyerukan kepada orang banyak agar menolak setiap bentuk godaan yang menghalangi kasih mereka kepada-Mu. Penuhilah jiwaku dengan kebencian yang kudus terhadap dosa dan segala godaan agar aku dapat menolaknya dengan penuh semangat. Semoga aku mengasihi Engkau di atas segala sesuatu dan, dari kasih itu, mengasihi sesama serta bahkan jiwaku sendiri dengan Hati Kudus-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Mengetahui Niat Orang Lain

Senin Pekan Biasa XXIII

Pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke rumah ibadat dan mengajar. Di situ ada seorang yang tangan kanannya lumpuh. Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Dia untuk melihat apakah Ia akan menyembuhkan pada hari Sabat, supaya mereka dapat menemukan alasan untuk menuduh-Nya. Namun, Ia mengetahui niat mereka… Lukas 6:6–8

Yesus memiliki suatu karunia. Tentu saja, Ia memiliki setiap karunia yang baik secara sempurna. Namun, dalam Injil hari ini, kita melihat salah satu karunia Yesus dinyatakan. Yaitu, Yesus mampu mengetahui niat orang-orang yang dijumpai-Nya setiap hari.

Biasanya, kita hanya dapat mengetahui niat orang lain jika mereka mengatakannya kepada kita. Kita tidak dapat membaca pikiran dan hati. Namun, Tuhan kita dapat melakukannya. Ia memiliki kemampuan ilahi untuk membaca setiap jiwa dan mengetahui setiap hati. Karena itu, ketika seseorang datang kepada-Nya dengan iman yang besar, Ia mengetahuinya. Dan ketika seseorang datang kepada-Nya dengan niat jahat, Ia pun mengetahuinya.

Ketika Yesus mengetahui niat buruk para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Ia menggunakan pengetahuan itu untuk menyingkapkan niat mereka. Mereka bermaksud mencari alasan untuk menuduh Yesus, maka Ia memberi mereka alasan itu. Yesus menyembuhkan seorang yang tangannya lumpuh pada hari Sabat, dan para ahli Taurat serta orang-orang Farisi “menjadi sangat marah dan berunding bersama tentang apa yang dapat mereka lakukan terhadap Yesus.” Mereka menganggap mukjizat sebagai pelanggaran terhadap hukum istirahat pada hari Sabat. Yesus tahu bahwa mereka akan menerapkan logika mereka yang menyimpang pada penyembuhan ajaib ini, dan Ia tahu bahwa mereka akan menjadi sangat marah kepada-Nya karena kedengkian mereka. Jadi, dalam arti tertentu, Yesus memancing reaksi mereka agar apa yang ada di dalam hati mereka tersingkap dan dapat mereka lihat.

Segala niat dan pikiran dalam batin kita diketahui oleh Allah dan harus menjadi nyata bagi kita di hadirat Allah. Dengan memancing reaksi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi dalam kasih, Yesus memaksa mereka menghadapi apa yang ada di dalam diri mereka. Mereka harus memilih: terus menempuh jalan kedengkian atau menyadari kebodohan pikiran-pikiran dalam batin mereka. Sayangnya, tampaknya banyak di antara para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu menjadi semakin keras hati dalam dosa mereka. Namun, pilihan ini hanya dapat mereka buat sendiri.

Renungkanlah hari ini niat dan pikiran dalam batin Anda sendiri. Mengapa Anda melakukan hal-hal yang Anda lakukan? Motivasi tersembunyi apa yang ada di dalam hati Anda? Adakah seseorang, atau situasi tertentu yang Anda alami, yang membuat Anda terus terpaku pada amarah dalam batin? Ataukah kasih sejati yang bersemayam dalam diri Anda dan menjadi sumber tindakan Anda? Adakah iman yang mendalam? Pengharapan adikodrati? Ataukah yang terutama ada justru suatu dosa yang sedang Anda gumuli? Ketahuilah bahwa Yesus mengenal hati Anda, dan Ia ingin agar Anda juga melihat dengan jelas hal-hal yang tersembunyi di dalam hati Anda. Ia ingin agar Anda melihat niat-niat Anda sejelas Ia melihatnya. Biarkanlah Dia menyingkapkan kedalaman hati Anda kepada Anda, agar Anda dapat berpaling dari dosa-dosa yang Anda temukan dan bersukacita atas keutamaan-keutamaan yang Anda hayati.

Tuhanku yang mulia, Engkau mengetahui segala pikiran dan menyelami kedalaman setiap hati. Engkau mengenal aku, Tuhan, seutuhnya. Bukalah mataku untuk melihat apa yang ada dalam diriku agar aku dapat mengenali niat-niat buruk yang kumiliki dan bersukacita atas keutamaan-keutamaan yang Engkau berikan kepadaku. Semoga aku selalu penuh perhatian kepada-Mu, ya Tuhan terkasih, agar aku menyadari segala sesuatu yang ingin Engkau singkapkan kepadaku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Mendengarkan dan Penyembuhan

Selasa Pekan Biasa XXIII

Lalu Ia turun bersama mereka dan berdiri di suatu tempat yang datar. Sejumlah besar murid-Nya dan banyak orang dari seluruh Yudea dan Yerusalem serta daerah pesisir Tirus dan Sidon datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; bahkan mereka yang disiksa oleh roh-roh jahat pun disembuhkan. Semua orang dalam kerumunan itu berusaha menjamah Dia karena kuasa keluar dari-Nya dan menyembuhkan mereka semua. Lukas 6:17–19

Injil Lukas menyajikan kepada kita apa yang secara tradisional dikenal sebagai “Khotbah di Dataran.” Hampir semua yang dicantumkan Lukas dalam khotbah ini juga terdapat dalam “Khotbah di Bukit” dalam Injil Matius. Namun, Matius menambahkan beberapa ajaran yang tidak terdapat dalam Lukas. Khotbah dalam Injil Matius mencakup tiga bab, sedangkan dalam Injil Lukas hanya satu bab.

Dalam bagian pengantar “Khotbah di Dataran” ini, yang akan kita baca sepanjang pekan ini, Lukas menunjukkan bahwa sejumlah besar orang datang dari berbagai tempat yang jauh untuk mendengarkan Yesus. Orang banyak ini mencakup banyak orang Yahudi, tetapi juga banyak orang dari wilayah Tirus dan Sidon yang penduduknya menyembah berhala. Lalu, apa yang menarik begitu banyak orang itu? Mereka datang untuk “mendengar” Yesus berkhotbah dan “untuk disembuhkan.” Mereka ingin mendengar perkataan Yesus karena Ia berbicara dengan wibawa yang besar dan dengan cara yang mengubah hidup orang. Mereka terutama takjub akan kuasa penyembuhan yang dinyatakan Yesus. Kalimat terakhir dalam kutipan di atas sangat menekankan kerinduan akan kesembuhan ini. “Semua orang dalam kerumunan itu berusaha menjamah Dia karena kuasa keluar dari-Nya dan menyembuhkan mereka semua.”

Menarik bahwa Yesus melakukan begitu banyak mukjizat yang penuh kuasa selama Ia menjalankan pelayanan-Nya di hadapan umum. Hal ini terutama terjadi pada awal pelayanan-Nya. Bagi banyak orang, Ia seolah-olah menjadi sosok terkenal dalam sekejap dan menjadi buah bibir di banyak kota sekitarnya. Namun, menarik pula untuk diperhatikan bahwa, seiring berjalannya waktu, Yesus lebih menekankan pengajaran-Nya daripada mukjizat-mukjizat-Nya.

Apa yang membuat Anda tertarik kepada Tuhan kita? Seandainya Allah melakukan banyak mukjizat yang nyata pada masa kini, mungkin banyak orang akan takjub. Namun, mukjizat jasmani bukanlah karya terbesar Tuhan kita dan, karena itu, tidak seharusnya menjadi pusat utama hubungan kita dengan-Nya. Alasan utama kita tertarik kepada Tuhan kita seharusnya adalah karena Sabda-Nya yang kudus meresap dalam-dalam, mengubah kita, dan menarik kita ke dalam persekutuan dengan-Nya. Hal ini terlihat jelas dari kenyataan bahwa kini, setelah pesan Injil berakar kuat dan Gereja terbentuk, mukjizat jasmani jarang terjadi. Mukjizat-mukjizat itu memang terjadi, tetapi tidak dengan cara yang sama seperti ketika Yesus pertama kali memulai pelayanan-Nya di hadapan umum.

Renungkanlah hari ini alasan utama yang membuat Anda tertarik kepada Tuhan kita. Carilah Sabda-Nya yang hidup, yang diucapkan di kedalaman hati Anda. Mukjizat terpenting yang terjadi pada masa kini adalah perubahan batin. Ketika seseorang mendengar Allah berbicara, menanggapi Sabda itu, dan membiarkan-Nya mengubah hidupnya, hal ini termasuk salah satu mukjizat rahmat terpenting yang dapat kita alami. Inilah alasan utama kita seharusnya tertarik kepada-Nya, mencari-Nya, dan mengikuti-Nya ke mana pun Ia menuntun.

Tuhanku yang mengerjakan mukjizat, tariklah aku kepada-Mu dan ajarlah aku di padang gurun kehidupan batinku yang hening dan sunyi. Bantulah aku mencari-Mu agar aku dapat mendengar Sabda-Mu, yang disampaikan kepadaku untuk memberiku hidup baru. Semoga aku selalu mendengarkan-Mu agar Sabda-Mu yang kudus mengubah diriku secara lebih utuh, menjadikan aku ciptaan baru sebagaimana yang Engkau kehendaki. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Berkat Ganda

Rabu Pekan Biasa XXIII

“Tetapi celakalah kamu yang kaya, karena kamu telah menerima penghiburanmu. Tetapi celakalah kamu yang sekarang kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu yang sekarang tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu ketika semua orang memuji kamu, karena demikian pula nenek moyang mereka memperlakukan nabi-nabi palsu.” Lukas 6:24–26

Apakah berbahaya menjadi kaya, kenyang, tertawa, dan dipuji oleh semua orang? Menurut Yesus, tampaknya demikian. Mengapa Yesus memperingatkan kita terhadap hal-hal ini? Dan sebelum itu, mengapa Ia menyatakan bahwa mereka yang miskin, lapar, menangis, dan dihina adalah orang-orang yang berbahagia? Pada dasarnya, Yesus sedang mengecam empat dosa yang umum—ketamakan, kerakusan, ketiadaan pengendalian diri, dan kesombongan yang haus pujian—serta menganjurkan keutamaan-keutamaan yang berlawanan dengan dosa-dosa itu.

Kemiskinan, pada dirinya sendiri, tidaklah cukup untuk mencapai kekudusan. Namun, dalam Injil Lukas, Yesus menyatakan bahwa berbahagialah orang yang miskin dalam arti harfiah. Ini melangkah lebih jauh daripada Injil Matius yang menyatakan bahwa berbahagialah orang yang “miskin di hadapan Allah.” Menjadi miskin di hadapan Allah berarti secara rohani bebas dari kelekatan pada hal-hal materi di dunia ini agar Anda dapat sepenuhnya terbuka terhadap kekayaan Allah. Salah satu kecenderungan umum di antara mereka yang memiliki kekayaan materi adalah mencari pembenaran bahwa meskipun mereka memiliki banyak hal, mereka tidak melekat padanya. Semoga memang demikian. Namun, dalam Sabda Bahagia menurut versi Lukas, Yesus secara langsung berkata, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin” dan “celakalah kamu, hai kamu yang kaya.” Dalam ajaran ini, kita menemukan berkat kedua yang tidak terdapat dalam versi Matius. Selain menyebut kebebasan rohani dari kelekatan (kemiskinan rohani) sebagai suatu berkat, kemiskinan dalam arti harfiah dinyatakan sebagai jalan yang lebih mudah untuk mencapai kebebasan rohani dari kelekatan ini. Kekayaan materi, meskipun pada dirinya sendiri bukanlah dosa, membawa banyak godaan untuk melekat pada harta, mengandalkan diri sendiri, dan memanjakan diri. Maka, secara rohani, lebih mudah untuk bebas dari kelekatan ketika seseorang miskin daripada ketika ia kaya. Ini adalah kebenaran yang sulit diterima baik oleh orang miskin maupun orang kaya. Orang miskin sering ingin menjadi kaya, dengan berpikir bahwa seandainya mereka kaya, mereka akan membagikan kekayaan mereka kepada orang lain dan tetap bebas dari kelekatan. Orang kaya sering menikmati keadaan mereka yang kaya dan percaya bahwa secara rohani mereka lebih bebas dari kelekatan daripada kenyataannya.

Keadaan “lapar” juga disebut sebagai keadaan yang terberkati, sedangkan keadaan “kenyang” merupakan keadaan yang berbahaya. Ketika Anda sungguh-sungguh lapar, entah karena berpuasa atau karena makanan tidak berlimpah, lebih mudah untuk mengarahkan rasa lapar dan haus Anda kepada Allah agar dipuaskan oleh-Nya dan untuk lebih mudah percaya pada penyelenggaraan-Nya. Makanan yang berlimpah, terutama makanan yang lezat, menggoda Anda dengan kepuasan kerakusan yang membuat Anda sulit untuk sepenuhnya lapar dan haus akan Allah serta kehendak-Nya yang kudus. Karena itu, jika Anda menahan diri untuk tidak memanjakan selera dan mengalami rasa lapar, Anda akan diberkati dengan kebebasan dari kerakusan, bahkan dari godaan untuk jatuh ke dalamnya.

“Tertawa” dan “menangis” dalam hal ini tidak merujuk pada sukacita dan keputusasaan. Sebaliknya, keduanya merujuk pada orang-orang yang selalu mencari kesenangan dan hidup yang memanjakan diri. Banyak orang hidup demi kesenangan, hiburan, dan kenikmatan sesaat. Menangis merujuk pada mereka yang telah menyadari bahwa kenikmatan dunia yang sementara tidak pernah dapat memuaskan. Karena itu, hiburan yang tiada henti membawa godaan yang nyata, sedangkan hilangnya bentuk kenikmatan sesaat itu membantu menyingkirkan godaan tersebut.

Akhirnya, Yesus menyatakan bahwa berbahagialah orang yang dibenci, dikucilkan, dihina, dan dicap jahat karena Dia, alih-alih dipuji oleh semua orang. Dalam hal ini, Yesus merujuk pada pujian yang berasal dari hal-hal yang tidak berarti apa-apa dari sudut pandang kekekalan. Ketika semua orang memuji kita, menyanjung sifat-sifat dan pencapaian yang bukan merupakan keutamaan Kristiani sejati, kita akan tergoda untuk mengandalkan pujian itu demi kepuasan kita. Namun, bentuk kepuasan ini tidak lain adalah kesombongan yang sia-sia dan pada akhirnya tidak pernah sungguh-sungguh memuaskan. Sebaliknya, ketika seseorang melihat dan memuji keutamaan-keutamaan Allah dalam diri kita, Allahlah yang pertama-tama dan terutama dipuji, dan kita diberkati untuk mengambil bagian dalam kemuliaan Allah.

Renungkanlah hari ini apakah Anda lebih memilih untuk menjadi kaya, memanjakan diri dengan makanan terbaik, terus-menerus dihibur, dan menjadi sasaran iri hati orang lain, atau apakah Anda melihat godaan-godaan yang dibawa oleh cara hidup seperti ini. Renungkanlah pula berkat-berkat rohani yang nyata yang diterima oleh mereka yang sungguh-sungguh miskin, lapar, ugahari, dan rendah hati. Ini adalah ajaran Yesus yang sangat menuntut. Jika ajaran ini terasa mengganjal bagi Anda, ketahuilah bahwa itu merupakan tanda bahwa Anda masih memiliki berbagai kelekatan dalam hidup. Renungkanlah terutama sabda bahagia yang paling sulit Anda terima dan hayati, dan jadikanlah sabda bahagia itu sebagai sumber permenungan dan doa. Melakukannya dengan jujur dan terbuka akan menjadikan Anda termasuk di antara mereka yang sungguh berbahagia di mata Allah.

Tuhanku yang terberkati, Engkau miskin, lapar, ugahari, dan rendah hati secara sempurna. Karena itulah, Engkau dipenuhi keutamaan yang sempurna dan mengalami kepuasan yang sepenuh-penuhnya. Bukalah mataku terhadap tipu daya dunia ini agar aku dapat menjalani hidup dalam kekudusan sejati bersama-Mu, seraya mengalami kekayaan Kerajaan Surga. Yesus, aku percaya kepada-Mu!


Hal Terpenting dalam Hidup

Kamis Pekan Biasa XXIII

Kepada orang yang menampar pipi Anda yang satu, berikanlah juga pipi yang lain, dan kepada orang yang mengambil jubah Anda, janganlah menahan bahkan baju Anda. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepada Anda, dan dari orang yang mengambil milik Anda, janganlah menuntutnya kembali. Lukas 6:29–30

Hal ini pasti mengejutkan murid-murid pertama Yesus. Pertama-tama, ingatlah bahwa Yesus mengajarkan perkataan ini dengan wibawa rohani yang membuat mereka yang terbuka hatinya yakin bahwa apa yang diajarkan Yesus adalah kebenaran. Ingatlah juga bahwa Yesus mengajarkan pelajaran-pelajaran rohani yang mendalam ini dalam konteks melakukan banyak mukjizat. Karena alasan-alasan inilah, para pengikut-Nya yang baru tentu mengetahui bahwa apa yang diajarkan Yesus itu benar. Namun, bagaimana mereka dapat menerima sepenuhnya ajaran-ajaran seperti itu?

Meskipun banyak penafsir akan berusaha menunjukkan prinsip-prinsip rohani yang lebih mendalam yang diajarkan Yesus, cobalah terlebih dahulu menerima perkataan-Nya sebagaimana adanya. Ia sungguh mengatakan bahwa Anda harus memberikan pipi yang lain kepada orang yang menampar Anda, memberikan baju Anda kepada orang yang mencuri jubah Anda, dan memberi kepada setiap orang yang meminta kepada Anda, tanpa pernah menuntut kembali apa yang diambil seseorang dari Anda. Ini bukanlah pelajaran yang mudah diterima!

Satu hal yang diajarkan kepada kita oleh pelajaran-pelajaran yang penuh daya ini adalah bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting dalam hidup daripada penghinaan karena ditampar di pipi dan harta milik yang dicuri. Apakah hal yang lebih penting itu? Keselamatan jiwa-jiwa.

Jika kita menjalani hidup dengan menuntut keadilan duniawi dan pembalasan atas perlakuan buruk yang kita terima, kita tidak akan mampu memusatkan perhatian pada hal yang terpenting. Kita tidak akan mampu memusatkan perhatian pada keselamatan mereka yang telah berbuat salah kepada kita. Mudah untuk mengasihi mereka yang baik kepada kita. Namun, kasih kita harus menjangkau setiap orang, dan terkadang bentuk kasih yang harus kita berikan kepada orang lain adalah menerima dengan rela ketidakadilan yang mereka lakukan terhadap kita. Ada daya yang besar dalam tindakan kasih ini. Namun, kita hanya akan mampu mengasihi orang lain dengan cara ini jika kerinduan kita yang mendalam adalah keselamatan kekal mereka. Jika yang kita inginkan hanyalah keadilan duniawi dan pemuasan atas kesalahan yang dilakukan terhadap kita, mungkin kita akan memperolehnya. Namun, hal itu mungkin harus dibayar dengan keselamatan mereka.

Terkadang kita dapat terjebak dalam pemikiran bahwa setiap kesalahan harus dibereskan di sini dan saat ini juga. Namun, jelas bukan itu yang diajarkan Yesus. Kebijaksanaan-Nya jauh lebih mendalam. Ia tahu bahwa tindakan belas kasih dan pengampunan yang mendalam kepada orang lain, terutama ketika mereka telah melukai kita secara mendalam, merupakan salah satu pemberian terbesar yang dapat kita berikan. Dan itu juga merupakan salah satu tindakan yang paling mampu mengubah jiwa kita sendiri. Ketika kasih terasa menyakitkan, dalam arti bahwa kita harus mengorbankan harga diri duniawi kita, terutama dengan sepenuhnya merelakan ketidakadilan yang kita alami, maka tindakan kasih kita kepada orang tersebut memiliki daya yang besar untuk mengubahnya. Dan jika tindakan itu mengubahnya, maka hal ini akan menjadi sumber sukacita Anda untuk selama-lamanya.

Renungkanlah hari ini bagian mana dari ajaran Yesus yang keras ini yang terasa sulit bagi Anda. Siapa yang terlintas dalam pikiran ketika Anda merenungkan ajaran ini? Apakah gejolak perasaan Anda memberontak terhadap perintah kasih dari Yesus ini? Jika demikian, Anda telah menemukan bidang tertentu tempat Allah menghendaki Anda bertumbuh. Pikirkanlah siapa saja yang terhadapnya Anda menyimpan keluhan, dan renungkanlah apakah Anda menginginkan keselamatan kekalnya. Ketahuilah bahwa Allah dapat memakai Anda untuk misi kasih ini jika Anda mau mengasihi dengan cara yang diperintahkan Tuhan kita.

Tuhanku yang penuh belas kasih, kasih-Mu melampaui kemampuanku untuk memahaminya. Kasih-Mu mutlak dan selalu mengupayakan kebaikan bagi sesama. Berilah aku rahmat, ya Tuhan terkasih, untuk mengasihi dengan hati-Mu dan mengampuni sejauh Engkau telah mengampuni. Pakailah aku, terutama, untuk menjadi sarana keselamatan dan belas kasih bagi mereka dalam hidupku yang paling membutuhkannya. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Melihat Melalui Mata Allah 

Jumat Pekan Biasa XXIII

“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”  Lukas 6:41

Santa Teresa dari Avila, salah seorang penulis rohani dan pujangga Gereja terbesar, menjelaskan dalam mahakarya rohaninya “Puri-Puri Batin” bahwa salah satu langkah pertama di jalan menuju kekudusan adalah pengenalan diri. Pengenalan diri membuahkan kerendahan hati, karena kerendahan hati tidak lain adalah memiliki pandangan yang benar tentang diri sendiri. Ketika seseorang tidak mengenal dirinya dari sudut pandang yang benar menurut pikiran Allah, ia membuka diri terhadap banyak kekeliruan dalam menilai. Salah satu kekeliruan tersebut adalah bahwa ia dapat dengan mudah terpaku pada apa yang ia anggap sebagai dosa-dosa orang lain.

Kutipan Injil di atas menggambarkan seseorang yang sangat kurang mengenal dirinya sendiri. Mengapa? Karena ia “tidak melihat balok kayu” di matanya sendiri, yang berarti ia tidak melihat dosanya sendiri. Akibatnya, Yesus menjelaskan bahwa orang ini juga terpaku pada “selumbar” di mata saudaranya.

Ketika Anda mencermati pikiran Anda sendiri, apa yang paling banyak menyita pikiran Anda sepanjang hari? Apakah Anda dengan jujur menilik ke dalam batin, berusaha mengenal diri sebagaimana Allah mengenal Anda? Ataukah Anda menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memikirkan orang lain, menganalisis dan menghakimi tindakan mereka? Ini adalah pertanyaan penting yang perlu Anda ajukan kepada diri sendiri dan jawab dengan jujur.

Cara terbaik untuk mengenal diri sendiri adalah dengan memandang Yesus. Ketika Dia menjadi pusat perhatian Anda sepanjang hari, Anda bukan hanya akan semakin mengenal-Nya, tetapi juga akan semakin mengenal diri sendiri dengan lebih jujur. Memandang keindahan dan kesempurnaan Tuhan kita akan membawa dua buah sekaligus: mengenal Dia dan mengenal diri sendiri melalui mata-Nya. Hal itu juga akan membantu Anda mengenal orang lain sebagaimana Dia memandang mereka.

Bagaimana Yesus memandang orang-orang di sekitar Anda? Dia memandang mereka dengan belas kasih yang tak pernah putus. Memang, pada akhir hidup setiap orang, ketika kita beralih dari dunia ini ke dunia yang akan datang, kita akan menghadapi pengadilan khusus kita masing-masing di hadapan Tuhan kita. Namun, selama berada di bumi ini, Allah senantiasa memandang kita dengan belas kasih. Karena itu, belas kasih harus menjadi misi kita sehari-hari, dan kita harus membangun kebiasaan memandang setiap orang dalam hidup kita dengan mata penuh belas kasih.

Renungkanlah Tuhan kita hari ini. Pandanglah Dia, tataplah Dia, berusahalah mengenal-Nya, dan jadikanlah Dia pusat perhatian Anda. Sambil melakukannya, berusahalah menyingkirkan dari pikiran Anda penilaian-penilaian Anda sendiri tentang orang lain. Biarkanlah tatapan Anda kepada Tuhan kita membantu Anda bukan hanya melihat Dia, tetapi juga melihat orang lain melalui mata-Nya. Bangunlah kebiasaan ini, dan Anda akan melangkah maju dengan pesat di jalan menuju kekudusan.

Yesusku yang penuh belas kasih, semoga aku membangun kebiasaan yang rendah hati dan tulus untuk memandang Engkau dalam kemegahan dan keindahan-Mu. Saat aku memandang Engkau dari hari ke hari, bantulah aku juga untuk melihat diriku melalui tatapan mata-Mu yang penuh belas kasih agar aku pun bertumbuh dalam kerendahan hati. Singkirkanlah segala sikap menghakimi dari hatiku agar aku bebas untuk mengenal dan mengasihi semua orang sebagaimana Engkau mengenal dan mengasihi mereka. Yesus, aku percaya kepada-Mu.


Jalan yang Sedang Anda Tempuh

Sabtu Pekan Biasa XXIII

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Pohon yang baik tidak menghasilkan buah yang busuk, dan pohon yang busuk tidak menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya sendiri. Orang tidak memetik buah ara dari semak berduri, dan tidak pula memetik buah anggur dari semak duri.” Lukas 6:43–44

Sungguh suatu cara yang sangat baik untuk memeriksa arah hidup Anda! Perikop Injil ini menyentuh inti dari cara terbaik untuk menimbang apakah kita sungguh memenuhi kehendak Allah atau tidak. Sering kali kita mungkin kesulitan mengetahui dengan jelas apakah kita sedang melakukan apa yang Allah kehendaki dari kita. Ada banyak arah dalam hidup yang dapat menarik kita dan banyak tujuan yang dapat kita tentukan sendiri. Karena itu, ada baiknya kita sesekali berhenti sejenak dan meninjau hidup kita dengan jujur.

Ketika Anda menengok kembali satu tahun terakhir dalam hidup Anda, apa yang Anda lihat? Secara khusus, apakah Anda melihat buah-buah baik yang dihasilkan? Pemeriksaan seperti ini bermanfaat untuk dilakukan dari waktu ke waktu. Ada baiknya pemeriksaan ini dilakukan bukan hanya untuk satu tahun terakhir, tetapi juga untuk berbagai rentang waktu. Barangkali mulailah dengan melihat gambaran besarnya, dengan meninjau semua masa dalam hidup Anda yang paling banyak menghasilkan buah demi kemuliaan Allah. Dari sana, cobalah meninjau hidup Anda dasawarsa demi dasawarsa, tahun demi tahun, lalu bahkan bulan demi bulan selama satu tahun terakhir ini. Carilah saat-saat yang paling diberkati dalam hidup Anda, serta saat-saat yang paling penuh tantangan.

Ketika kita memeriksa hidup kita dengan cara ini, penting untuk memahami apa yang perlu dicari. Misalnya, mungkin ada saat-saat ketika segala sesuatu berjalan baik dalam satu atau lain hal, lalu ada saat-saat lain yang menyakitkan dan sangat sulit. Yang penting untuk dipahami dari sudut pandang Allah ialah bahwa hanya karena sesuatu “berjalan baik” pada suatu saat, atau hanya karena sesuatu terasa “menyakitkan dan sangat sulit” pada saat lain dalam hidup kita, itu tidak berarti bahwa saat yang pertama paling banyak menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah atau bahwa saat yang kedua paling sedikit menghasilkan buah. Bahkan, salib-salib yang berat dan kesulitan-kesulitan dalam hidup sering kali dapat menjadi masa-masa yang paling banyak menghasilkan buah bagi kita secara rohani. Lihat saja hidup Yesus. Tentu saja, segala sesuatu yang Dia lakukan menghasilkan buah demi kemuliaan Bapa di Surga, tetapi kita dapat dengan mudah menunjuk saat yang paling menyakitkan dalam hidup-Nya sebagai saat yang paling banyak menghasilkan buah. Penyaliban-Nya menghasilkan kebaikan terbesar yang pernah dikenal.

Demikian pula dengan hidup kita. Keberbuahan hidup kita tidak paling tepat dikenali dengan melihat saat-saat ketika segala sesuatu terasa mudah, menyenangkan, berkesan, dan sebagainya. Meskipun saat-saat itu mungkin juga dipenuhi rahmat, kita perlu memandang keberbuahan rohani dari sudut pandang ilahi. Kita perlu mencari saat-saat dalam hidup kita, baik yang mudah maupun yang sulit, ketika Allah jelas hadir dan ketika kita membuat pilihan-pilihan yang paling memuliakan-Nya.

Renungkanlah hari ini hidup Anda sebagai sebatang pohon yang menghasilkan buah rohani. Masa-masa manakah dalam hidup Anda, keputusan-keputusan yang Anda buat, atau kegiatan-kegiatan yang Anda jalani yang paling banyak menumbuhkan kebajikan dalam hidup Anda? Kapan kehidupan doa Anda paling mendalam? Kapan kasih Anda paling kuat? Kapan iman dan harapan Anda paling nyata? Kembalilah ke saat-saat itu, resapilah, belajarlah darinya, dan jadikanlah semuanya landasan terbaik untuk membangun masa depan mulia yang Tuhan kita kehendaki bagi Anda.

Tuhanku yang mulia, hidup-Mu menghasilkan buah yang tak ternilai harganya. Engkau senantiasa memilih untuk memenuhi kehendak Bapa di Surga, dan karena itu, Engkau menghayati setiap keutamaan dengan sempurna. Bantulah aku untuk secara teratur berhenti sejenak dalam hidup agar dapat memeriksa arah yang sedang kutuju. Semoga aku belajar dari kesalahan-kesalahanku dan bersukacita atas saat-saat yang paling banyak menghasilkan buah bagi Kerajaan-Mu. Aku mengasihi-Mu, Tuhan. Bantulah aku untuk menghasilkan buah yang paling berlimpah demi kemuliaan-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.

Daftar Isi


Keempat jilid tersedia dalam format buku cetak bersampul lunak & buku elektronik!

Amazon – Google Play – iTunes – Barnes and Noble

Bagikan Halaman Ini: