Keempat jilid tersedia dalam format buku cetak bersampul lunak & buku elektronik!
Bebas dari Kecemasan
Hari Minggu Biasa VIII (Tahun A)
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau setia kepada yang seorang dan memandang rendah yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Matius 6:24
Ada baiknya kita memahami bahwa setelah pernyataan pembuka ini, Yesus dengan lembut mendorong orang-orang agar tidak khawatir atau cemas dalam hidup. Dalam bagian selanjutnya dari Injil hari ini, Ia secara langsung membahas kekhawatiran dan kecemasan empat kali berturut-turut. Meskipun pernyataan pembuka-Nya yang dikutip di atas dapat terkesan mengkritik mereka yang terlalu mengandalkan uang, bagian selanjutnya dari perikop ini memperjelas bahwa perhatian utama Yesus adalah membantu membebaskan kita dari beban berat yang timbul karena lebih menaruh kepercayaan pada uang daripada kepada-Nya.
Kepada siapa atau pada apakah Anda pada akhirnya menaruh kepercayaan? Saat menjalani hidup dan menghadapi berbagai kebutuhan materi, pengeluaran yang meningkat, dan hal-hal serupa, banyak orang merasa cemas dan khawatir tentang cara memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga mereka. Bagi mereka yang memiliki lebih dari cukup, atau bahkan berlimpah, kekhawatiran sering kali mengambil bentuk lain. Kecemasan mereka kerap berupa ketakutan akan kehilangan apa yang mereka miliki atau keinginan untuk memiliki lebih banyak lagi. Mereka berpikir bahwa semakin banyak yang dapat mereka raih dalam hidup, semakin besar pula kedamaian dan kenyamanan yang akan mereka nikmati. Meskipun kekayaan materi memang menawarkan suatu bentuk kestabilan duniawi, hal itu sama sekali tidak sebanding dengan kestabilan dan ketenangan batin yang berasal dari kepercayaan penuh pada penyelenggaraan Allah dalam segala hal.
Mengandalkan penyelenggaraan Allah sangatlah sulit karena satu alasan sederhana: hal itu menuntut kepercayaan. Meskipun kita harus selalu bertindak secara bertanggung jawab dalam mengelola uang dan segala hal lain dalam hidup, tindakan paling bertanggung jawab yang dapat kita lakukan adalah menaruh seluruh kepercayaan kita kepada Allah. Percaya berarti bahwa pada akhirnya kita lebih bergantung pada Allah daripada pada diri sendiri. Mengambil pilihan itu merupakan tindakan yang sungguh bijaksana. Sebaliknya, tidak mengambil pilihan itu merupakan tindakan yang bodoh.
Apakah Anda percaya pada penyelenggaraan Allah? Jika Anda masih bergumul dalam hal ini, bacalah seluruh Injil hari ini. Dengarkan bukan hanya isi perkataan Yesus, melainkan juga nada yang Ia gunakan saat mengucapkannya. Kita mudah jatuh ke dalam sikap kurang percaya, tetapi sikap itu menimbulkan beban yang berat. Sebaliknya, percaya mungkin sulit pada awalnya, tetapi membuahkan ketenangan batin dan kebebasan. Kebenaran sederhana yang harus diimani adalah bahwa Allah dapat dipercaya dan akan setia memperhatikan setiap kebutuhan Anda ketika Anda memilih untuk sepenuhnya mengandalkan pemeliharaan-Nya. Ia akan membimbing Anda dalam kebijaksanaan dan memenuhi kebutuhan Anda dengan cara-cara yang tidak akan pernah dapat Anda lakukan sendiri. Penyelenggaraan-Nya akan menjangkau jauh melampaui urusan materi, hingga menyentuh kebutuhan rohani, mental, emosional, dan relasional Anda yang jauh lebih penting.
Renungkanlah hari ini apakah Anda memandang Allah sebagai Pribadi yang dapat dipercaya dalam setiap persoalan hidup Anda. Ini merupakan pertanyaan yang sangat penting untuk direnungkan. Carilah kebijaksanaan yang menuntun Anda untuk sepenuhnya mempercayakan diri pada pemeliharaan Allah, dan Anda akan mendapati bahwa segala yang Anda butuhkan dalam hidup, bahkan jauh lebih banyak lagi, dilimpahkan kepada Anda oleh kebaikan dan kemurahan hati Allah.
Allah yang menyelenggarakan segala sesuatu, Engkau dan hanya Engkaulah yang layak menerima kepercayaanku sepenuhnya dalam segala hal. Penuhilah aku dengan karunia rohani kebijaksanaan agar aku dapat melihat dengan jelas bahwa aku harus menyerahkan kepada-Mu setiap kecemasan dan kekhawatiran yang kupikul. Bebaskanlah aku dari beban-beban ini dan penuhilah aku dengan kedamaian yang berasal dari kepercayaan kepada-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Berpuasa demi Rahmat
Hari Minggu Biasa VIII (Tahun B)
Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi biasa berpuasa. Orang-orang datang kepada-Nya dan mengajukan keberatan, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak berpuasa?” Markus 2:18
Tujuan berpuasa pada zaman Perjanjian Lama berbeda dengan tujuan praktik puasa pada zaman Perjanjian Baru. Perbedaan tujuannya sama besarnya dengan perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintah umat-Nya melalui ajaran Hukum Musa dan para nabi. Moralitas terutama didasarkan pada ketaatan lahiriah. Karena itu, ketika puasa dijalankan pada zaman Perjanjian Lama, tujuannya adalah kembali setia kepada Hukum Taurat dan para nabi.
Kemudian Sang Mesias datang. Ia hadir dalam rupa manusia dan bersama para murid-Nya hari demi hari. Ketika Yesus berjalan bersama mereka dan mulai menganugerahkan kepada mereka suatu karunia rahmat yang baru, para murid-Nya tidak perlu berpuasa dengan cara yang dilakukan orang-orang dalam Perjanjian Lama. Hukum Baru rahmat telah tiba. Untuk sementara waktu, selama Tuhan kita masih bersama mereka, itulah saat untuk bersukacita, bukan berpuasa, sebab Sang Mempelai Laki-laki ada bersama mereka.
“Tetapi akan tiba saatnya mempelai laki-laki itu diambil dari mereka, dan pada hari itulah mereka akan berpuasa.” Yesus adalah Sang Mempelai Laki-laki, dan para murid adalah tamu-tamu pernikahan. Yesus menyatakan bahwa sebentar lagi akan tiba saatnya Ia naik ke Surga dan hadir bagi mereka hanya melalui rahmat. Ketika saat itu tiba, dan ketika para pengikut-Nya berpaling dari-Nya serta kehilangan karunia rahmat-Nya yang baru dalam hidup mereka, mereka perlu berpuasa—tetapi dengan tujuan yang baru. Tujuan baru itu adalah pemulihan Hukum Baru rahmat ini.
“Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada jubah yang sudah tua,” dan “tidak seorang pun menuangkan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang sudah tua.” Puasa dalam Perjanjian Baru harus bertujuan memulihkan secara batiniah rahmat yang Yesus tetapkan. “Kain yang belum susut” dan “anggur yang baru” merujuk pada rahmat yang diperoleh melalui wafat dan kebangkitan Tuhan kita. Karena itu, ketika rahmat tersebut hilang akibat dosa pribadi, bentuk puasa yang baru ini akan menjadi salah satu sarana untuk memulihkan rahmat tersebut.
Renungkanlah hari ini pentingnya bentuk baru puasa dan mati raga ini. Melaluinya, Anda menjadi lebih terbuka sepenuhnya terhadap rahmat dan belas kasih yang diberikan kepada Anda oleh Juruselamat kita. Renungkanlah terutama dosa-dosa yang masih Anda gumuli dan yang merampas rahmat Allah dari diri Anda. Puasa bukanlah beban yang kita tanggung untuk membayar dosa-dosa kita di masa lalu. Hal itu telah dituntaskan melalui Salib. Sebaliknya, puasa adalah sarana untuk membebaskan jiwa kita dari keterikatan yang tidak sehat pada dosa-dosa yang menghalangi kita untuk terbuka terhadap rahmat Allah. Carilah kebebasan itu dan terimalah setiap tindakan mati raga yang diperlukan untuk memperolehnya.
Tuhan sumber rahmat, Engkau datang untuk menjadikan segala sesuatu baru dan mengubah kami melalui Hukum Baru rahmat-Mu. Ketika aku melihat dosa dalam hidupku, berilah aku kebijaksanaan dan keberanian yang kubutuhkan untuk mematiragakan daging dan hawa nafsuku, agar aku dibebaskan dari beban-beban ini dan menjadi lebih terbuka sepenuhnya terhadap segala sesuatu yang hendak Engkau anugerahkan. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Terlatih Sepenuhnya
Hari Minggu Biasa VIII (Tahun C)
Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak melebihi gurunya; tetapi apabila telah terlatih sepenuhnya, setiap murid akan menjadi seperti gurunya.” Lukas 6:39–40
Apakah Anda sudah “terlatih sepenuhnya”? Apa artinya terlatih sepenuhnya? Yesus menegaskan bahwa mereka yang telah terlatih sepenuhnya akan menjadi seperti guru mereka. Tentu saja, kita harus menjadi seperti Tuhan kita, satu-satunya Guru. Jadi, apakah Anda sudah menjadi seperti Dia dalam segala hal?
Terlatih sepenuhnya sebagai seorang Kristiani berbeda dengan terlatih sepenuhnya dalam suatu profesi. Misalnya, seorang dokter telah terlatih sepenuhnya ketika semua pelajaran yang diperlukan telah dipelajari dan aspek-aspek praktis ilmu kedokteran telah diterapkan. Karena itulah orang tersebut menjadi dokter, sama seperti para dokter yang menjadi gurunya. Namun, kehidupan Kristiani bukanlah sesuatu yang kita kuasai dengan mempelajari banyak ajaran iman, sehingga berkat keahlian kita, kita kemudian dapat menerapkannya dengan menggunakan bakat-bakat alami kita. Agar seorang Kristiani terlatih sepenuhnya, Sang Tabib Ilahi harus sepenuhnya menguasai dirinya, hidup di dalam dirinya, dan bertindak melalui dirinya. Dengan demikian, latihan Kristiani adalah praktik membiarkan Allah menjadi satu dengan Anda, sehingga Allahlah yang bertindak di dalam dan melalui Anda.
Bentuk “latihan” ini pertama-tama bertujuan membebaskan kita dari kebutaan rohani. Kita harus melihat Kristus dan sampai pada pengenalan akan Dia. Sekali lagi, ini bukan sekadar soal mempelajari berbagai kebenaran tentang Allah secara intelektual. Ini soal sampai pada pengenalan akan Sang Kebenaran sendiri. Kita harus melihat dan mengenal Pribadi Kristus Yesus. Inilah penglihatan yang sejati. Namun, kebutaan selalu dapat kembali ketika kita mengalihkan mata jiwa kita dari Sang Juruselamat.
Namun, melihat Kristus saja tidaklah cukup. Melihat harus diikuti dengan berbuat. Itulah sebabnya Tuhan kita selanjutnya mengatakan dalam Injil hari ini bahwa “setiap pohon dikenal dari buahnya sendiri” dan bahwa “orang baik mengeluarkan apa yang baik dari perbendaharaan kebaikan dalam hatinya.” Melihat Kristus sendiri di dalam jiwa Anda akan menghasilkan “perbendaharaan kebaikan” itu, dan hal ini akan membuat Anda semakin “terlatih sepenuhnya”. Hanya dengan demikian Anda dapat menghasilkan buah yang baik, sebab Kristus sendirilah yang akan menghasilkan buah yang baik di dalam dan melalui Anda.
Jadi, kembali ke pertanyaan awal kita: “Apakah Anda sudah terlatih sepenuhnya?” Apakah setiap hari Anda tetap mengarahkan pandangan kepada satu Pribadi, yakni Yesus sendiri? Dan jika demikian, apakah Anda membiarkan Dia bertindak dalam hidup Anda dan, melalui Anda, dalam hidup orang lain? Jika Anda tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan “Ya” yang penuh keyakinan, maka mungkin ada lebih banyak kebutaan dalam kehidupan rohani Anda daripada yang Anda sadari.
Renungkanlah hari ini misi Anda untuk menjadi seorang prajurit Kristus yang terlatih sepenuhnya. Allah ingin memakai Anda, hidup di dalam diri Anda, dan bertindak melalui Anda. Dia ingin agar Anda menjadi seperti Dia dalam segala hal. Ini hanya mungkin ketika Anda mengakui kebutaan yang Anda gumuli, mengarahkan pandangan kepada-Nya, dan membiarkan Dia menjadi satu dengan Anda. Mulailah dengan berpaling kepada-Nya yang berdiam di dalam diri Anda. Carilah Dia, upayakanlah untuk menemukan-Nya, dan kasihilah Dia. Jika Anda tetap mengarahkan pandangan kepada-Nya, Dia akan mengurus segala hal lainnya dengan penuh perhatian, menuntun Anda menuju kehidupan yang terlatih sepenuhnya dan berbuah.
Guru Ilahiku, aku berpaling kepada-Mu, Tuhan atas segala sesuatu, dan berusaha memusatkan pandanganku kepada-Mu. Saat aku memandang-Mu, singkirkanlah kebutaan dan kebingunganku. Sebagai gantinya, berilah aku kebijaksanaan agar aku selalu membiarkan Engkau hidup di dalam diriku dan bertindak melalui diriku, sehingga menghasilkan buah baik yang berlimpah. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Jalan Menuju Kesempurnaan
Senin Pekan Biasa VIII
Ketika Yesus hendak memulai perjalanan, seorang laki-laki berlari mendekati-Nya, berlutut di hadapan-Nya, dan bertanya kepada-Nya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus menjawabnya, “Mengapa engkau menyebut Aku baik? Tidak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau mengetahui perintah-perintah Allah…” Markus 10:17–19
Yesus berbicara kepada orang yang berbeda dengan cara yang berbeda pula. Dia menegur keras orang-orang sombong dan angkuh yang datang untuk menjebak-Nya. Dia sangat lembut dan baik hati terhadap pendosa yang bertobat dan datang dengan bercucuran air mata. Dia berbicara dalam perumpamaan dan kiasan kepada mereka yang ingin tahu tetapi hanya memiliki sedikit iman. Dan kepada mereka yang datang dengan keterbukaan, dengan tulus mencari kebenaran, Dia berbicara dengan jelas, penuh kasih, dan terus terang.
Injil hari ini menyajikan kepada kita kisah yang sudah kita kenal tentang seorang pemuda kaya. Perhatikan bagaimana pemuda ini datang kepada Yesus. Pertama, ia “berlari” menghampiri Yesus. Hal ini menunjukkan betapa besar keinginannya untuk berbicara dengan Tuhan kita. Ia juga berlutut di hadapan Yesus, yang menunjukkan kerendahan hati dan sikap hormatnya. Kemudian ia mengajukan pertanyaan yang langsung dan penting kepada Yesus. Ia tidak meminta Yesus menyembuhkan seseorang. Ia tidak mencari mukjizat atau pertolongan bagi kepentingan pribadinya. Sebaliknya, pemuda ini mengajukan pertanyaan yang seharusnya kita semua ajukan kepada Yesus setiap hari. “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Apakah ini pertanyaan yang Anda renungkan dan ajukan kepada Tuhan kita?
Seiring berlanjutnya kisah ini, Yesus memberikan dua jawaban. Pertama, Dia memberikan jawaban mendasar atas pertanyaan pemuda itu. Hidup kekal diperoleh dengan menjauhi dosa berat, karena kasih dan ketaatan kepada kehendak Allah. Namun, setelah pemuda itu bertanya lebih lanjut, Yesus memberinya jawaban yang jauh lebih mendalam. Jawaban kedua ini didasari oleh kasih yang mendalam kepada pemuda tersebut karena jawaban itu mengungkapkan kunci menuju kesempurnaan. “Hanya satu lagi kekuranganmu. Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memiliki harta di surga; kemudian datanglah, ikutlah Aku.”
Banyak orang menjalani hidup dengan memenuhi tuntutan kekudusan yang paling mendasar. Mereka menghindari dosa berat agar tetap berada dalam keadaan rahmat. Dan ini baik. Namun, Yesus menginginkan jauh lebih dari itu: Dia menginginkan kesempurnaan. Ketika kita dengan tulus mencari kesempurnaan, Yesus akan menjawab kita sebagaimana Dia menjawab pemuda kaya itu. Kesempurnaan menuntut pemurnian yang paling mendalam dari segala keterikatan kita yang tidak sehat. Kebanyakan orang memiliki banyak keterikatan yang menghalangi kesempurnaan. Keterikatan itu mungkin bukan dosa berat, tetapi merupakan dosa ringan atau ketidaksempurnaan rohani. Karena itu, penting untuk mengetahui bahwa jika Anda menginginkan kesempurnaan, dan jika Anda merendahkan diri di hadapan Tuhan kita serta dengan tulus bertanya bagaimana memperolehnya, Dia akan dengan penuh kasih mengundang Anda untuk melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah dan kehendak-Nya yang kudus bagi hidup Anda. Apa artinya secara konkret bagi Anda harus didiskernemenkan dalam doa.
Renungkanlah hari ini apakah Anda dapat ikut bersama pemuda kaya ini mengajukan pertanyaan-pertanyaannya dengan rendah hati kepada Yesus. Apakah Anda ingin mengetahui bagaimana menjadi sempurna? Jika demikian, apakah Anda siap menanggapi jawaban Yesus? Apakah Anda bersedia meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi terlaksananya kehendak Allah agar Anda dapat mengikuti-Nya dan memenuhi kehendak-Nya yang sempurna? Renungkanlah pertanyaan ini dan berkomitmenlah untuk menerima jawaban Yesus dengan sepenuh hati, maka Anda akan menjadi lebih kaya dalam hal-hal yang sungguh berarti, melampaui apa yang dapat Anda bayangkan.
Tuhanku yang murah hati, Engkau memanggilku menuju kesempurnaan. Engkau memanggilku untuk berpaling dari segala sesuatu yang menghalangiku mengasihi-Mu dengan sempurna dan menerima kehendak-Mu dengan sepenuh hati. Bantulah aku untuk dengan tulus berpaling kepada-Mu setiap hari, hanya mencari kehendak-Mu seutuhnya dalam segala hal. Saat aku melakukannya, bebaskanlah aku dari segala sesuatu yang menghalangiku menjalani hidup dalam kesempurnaan yang menjadi panggilanku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Pertukaran Hadiah
Selasa Pekan Biasa VIII
Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada seorang pun yang telah meninggalkan rumah atau saudara laki-laki atau saudara perempuan atau ibu atau bapa atau anak-anak atau ladang demi Aku dan demi Injil, yang tidak akan menerima seratus kali lipat…” Markus 10:29–30
Pernyataan Yesus di atas merupakan tanggapan terhadap Petrus yang berkata kepada-Nya, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau.” Seolah-olah Petrus sedang memuji dirinya sendiri, berusaha menonjolkan betapa banyak yang telah ia dan para murid lainnya korbankan untuk mengikuti Yesus. Dan memang benar, mereka telah meninggalkan segala sesuatu dari kehidupan mereka sebelumnya. Mereka meninggalkan rumah, pekerjaan, relasi, dan segala sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari keseharian mereka demi menanggapi panggilan Yesus. Mereka sungguh-sungguh menyerahkan diri sepenuhnya.
Ketika mendengar pernyataan Petrus ini, Yesus tidak memberikan tanggapan seperti yang diharapkan. Ia tidak berkata kepada Petrus, “Ya, memang demikian. Sungguh mengesankan, Petrus. Bagus sekali dan terima kasih!” Sebaliknya, Yesus segera menjelaskan kepada Petrus bahwa pengorbanan yang telah ia dan murid-murid lainnya lakukan itu tidaklah sia-sia. Komitmen mereka yang teguh untuk mengikuti Yesus akan dibalas dengan karunia-karunia yang melampaui bayangan mereka. Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa karunia-karunia yang akan Ia limpahkan kepada mereka akan jauh berlipat ganda melampaui setiap pengorbanan yang mereka lakukan.
Ini bukanlah tindakan meremehkan pengorbanan diri Petrus, melainkan suatu bentuk peneguhan dari Yesus. Ia meneguhkan Petrus dan para murid lainnya agar sepenuhnya yakin akan keputusan mereka untuk mengikuti-Nya. Pengorbanan mereka akan menghasilkan balasan seratus kali lipat. Sungguh suatu investasi yang baik.
Kadang-kadang kita semua dapat tergoda untuk merasa bahwa Allah meminta terlalu banyak dari kita. Memang benar bahwa Allah meminta banyak dari kita. Ia meminta segala sesuatu dari kita. Ia meminta agar kita mempersembahkan hidup kita kepada-Nya secara utuh dan menyeluruh. Ia memanggil kita untuk meninggalkan segala sikap mementingkan diri sendiri dan mengabdikan diri kepada kehendak-Nya yang kudus tanpa pengecualian. Namun, jika kita memahami ganjaran atas pemberian diri kita, pengorbanan yang kita lakukan akan tampak kecil dibandingkan dengan ganjaran itu.
Renungkanlah hari ini apakah Anda dapat mengucapkan kata-kata Rasul Santo Petrus ini: “Tuhan, aku telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Engkau.” Sudahkah Anda sungguh-sungguh menyerahkan hidup Anda sepenuhnya kepada Kristus Yesus? Adakah hal-hal yang masih Anda pertahankan, yang tidak ingin Anda “korbankan” bagi Tuhan kita? Renungkanlah kata-kata Petrus itu dan bukalah diri Anda untuk melihat bagian-bagian hidup Anda yang masih perlu Anda serahkan kepada Yesus. Dan saat Anda melakukannya, biarkanlah ganjaran yang dijanjikan oleh Tuhan kita mendorong Anda hingga Anda sungguh-sungguh tidak menahan apa pun dan benar-benar telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti kehendak-Nya yang kudus.
Tuhanku yang murah hati, Engkau meminta segalanya dariku. Engkau memintaku meninggalkan segala sesuatu dalam upayaku mencari kehendak-Mu yang sempurna. Berilah aku rahmat yang kubutuhkan untuk menjawab panggilan-Mu dan hidup berkorban bagi-Mu tanpa menghitung-hitung pengorbanannya. Kemurahan hati-Mu tak terlukiskan, ya Tuhan terkasih, dan aku percaya bahwa mengikuti-Mu akan menghasilkan buah kebaikan yang berlimpah. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Kebesaran dalam Penghambaan yang Kudus
Rabu Pekan Biasa VIII
Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, datang kepada Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami ingin agar Engkau melakukan bagi kami apa pun yang kami minta kepada-Mu.” Ia menjawab, “Apa yang kamu kehendaki Aku lakukan bagimu?” Mereka menjawab-Nya, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Markus 10:35–37
Yakobus dan Yohanes merasa cukup berani. Keberanian mereka mungkin sebagian timbul karena mereka telah begitu mengenal kebaikan Yesus. Ia tidak seperti siapa pun yang lain, dan ketulusan-Nya sangat nyata bagi mereka. Karena itu, mereka membiarkan diri terjerumus dalam perangkap menganggap kebaikan Yesus sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya mereka terima, dengan meminta suatu keistimewaan dari Tuhan kita demi kepentingan diri sendiri. Tanggapan Yesus lembut dan penuh pertimbangan. Pada akhirnya, Yakobus dan Yohanes agak dipermalukan oleh upaya mereka memperoleh keistimewaan yang mementingkan diri itu, ketika para murid lainnya menjadi “marah” atas permintaan mereka.
Yesus merangkum tanggapan-Nya kepada para murid ini sebagai berikut: “…barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; barang siapa ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba dari semuanya.” Tentu saja, Yesus terutama sedang berbicara tentang diri-Nya sendiri. Dialah yang terbesar dan yang pertama di antara mereka. Dan karena alasan itulah, Yesus merendahkan diri-Nya sebagai pelayan mereka dan “hamba dari semuanya.” Biasanya, gagasan menjadi seorang budak memiliki konotasi yang sangat negatif. Perbudakan merupakan pelanggaran terhadap martabat orang lain. Perbudakan adalah suatu cara mengabaikan martabat pribadi manusia. Namun demikian, Yesus mengatakan bahwa cara ideal untuk sungguh-sungguh menjadi besar adalah dengan menjadi hamba dari semuanya.
Ketika perbudakan dalam arti harfiah dipaksakan kepada seseorang, hal itu merupakan pelanggaran berat terhadap martabatnya. Namun, ada bentuk perbudakan lain yang kudus, yang dimaksudkan oleh Yesus. Bagi Yesus, perbudakan yang kudus adalah ketika kita memberikan diri kepada orang lain dengan rela berkorban karena kasih. Dan inilah yang dilakukan Yesus secara sempurna. Wafat-Nya di Salib sungguh merupakan kematian jasmani. Itu adalah pengorbanan hidup-Nya di dunia, tetapi dilakukan dengan bebas dan dengan tujuan membebaskan orang lain. Dengan merujuk kepada diri-Nya sendiri, Yesus menjelaskan “perbudakan”-Nya yang kudus ketika Ia berkata, “Sebab Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Kebesaran Yesus pertama-tama terletak pada kenyataan sederhana bahwa Ia adalah Allah. Namun, kebesaran-Nya menjadi paling nyata dalam kodrat manusia-Nya ketika Ia memberikan nyawa-Nya “menjadi tebusan bagi banyak orang.” Saliblah yang menjadi tindakan pelayanan penuh kasih terbesar yang pernah dikenal. Buah dari pengorbanan-Nya yang tanpa pamrih adalah keselamatan bagi semua orang yang berpaling kepada-Nya. Dengan demikian, Yesus mengubah perbudakan dan kematian menjadi tindakan kasih terbesar yang pernah dikenal.
Renungkanlah hari ini panggilan Anda sendiri untuk menjalani hidup dalam perbudakan suci. Bagaimana Allah memanggil Anda untuk memberikan diri kepada sesama dengan penuh pengorbanan karena kasih? Dari sudut pandang manusia semata, gagasan tentang pengorbanan, penghambaan, dan bahkan perbudakan suci sulit dipahami. Namun, ketika kita menjadikan Yesus sebagai teladan, semuanya menjadi jauh lebih jelas. Carilah cara untuk memberikan diri kepada sesama tanpa pamrih, dan ketahuilah bahwa semakin Anda mampu meneladan Tuhan kita dalam upaya suci ini, semakin luhur pula hidup Anda.
Tuhan, sumber segala kekudusan, keagungan-Mu dinyatakan dalam kodrat manusia-Mu melalui tindakan penghambaan-Mu yang sempurna ketika Engkau dengan bebas memilih untuk wafat demi dosa-dosa mereka yang berpaling kepada-Mu untuk memperoleh penebusan. Engkau merendahkan diri-Mu, mengambil rupa seorang hamba, agar semua orang dapat dibebaskan. Bantulah aku untuk selalu percaya pada kasih-Mu yang besar dan terus membuka diri terhadap anugerah penebusan yang Engkau tawarkan. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Berseru kepada Yesus
Kamis Pekan Biasa VIII
Ketika Yesus meninggalkan Yerikho bersama murid-murid-Nya dan orang banyak yang cukup besar jumlahnya, Bartimeus, seorang buta, anak Timeus, duduk di pinggir jalan sambil mengemis. Ketika mendengar bahwa yang lewat itu adalah Yesus dari Nazaret, ia mulai berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku.” Markus 10:46–47
Bagaimana Anda berdoa? Pernahkah Anda “berseru” kepada Yesus dengan keyakinan yang mendalam dan kesungguhan hati? Orang buta ini, Bartimeus, memberikan kepada kita teladan yang indah tentang bagaimana kita seharusnya berdoa kepada Tuhan kita. Pertama-tama, orang buta itu berada dalam keadaan membutuhkan pertolongan. Kebutaannya melambangkan setiap kelemahan dan kebutuhan Anda dalam hidup. Jadi, apa yang paling Anda gumulkan dalam hidup? Dosa apa yang paling sering Anda lakukan sebagai kebiasaan? Atau, apa yang paling membuat Anda berdukacita?
Menyadari kelemahan kita adalah langkah pertama. Setelah menyadari kebutuhan-kebutuhan terbesar kita, kita juga harus “berseru” kepada Tuhan kita seperti yang dilakukan Bartimeus. Ketika mendengar bahwa yang lewat itu adalah Yesus, entah bagaimana Bartimeus merasakan dalam jiwanya bahwa Yesus ingin menyembuhkannya. Bagaimana ia merasakan hal ini? Ia mendengarkan suara Allah dalam batinnya. Ya, ia mendengar riuhnya banyak orang yang berbicara tentang Yesus saat Dia lewat. Namun, hal itu saja tidak mungkin mendorongnya untuk berseru dan mengetahui bahwa Yesus adalah sumber belas kasih yang dibutuhkannya. Yang mendorongnya adalah suara Allah yang jelas, suatu dorongan Roh Kudus dalam jiwanya, yang menyingkapkan kepadanya bahwa ia membutuhkan Yesus dan bahwa Yesus ingin menyembuhkannya.
Pada mulanya, orang-orang di sekitarnya menegur Bartimeus dan menyuruhnya diam. Seandainya iman Bartimeus lemah, mungkin ia akan menuruti orang banyak itu dan, dalam keputusasaan, tetap diam. Namun, sangat jelas bahwa ia bukan hanya mengabaikan teguran orang lain, melainkan juga “terus berseru semakin keras.”
Di sini Bartimeus memberikan kepada kita kesaksian tentang dua hal yang harus kita lakukan untuk berpaling kepada Tuhan kita. Pertama, kita harus merasakan kehadiran-Nya yang lembut namun jelas dalam jiwa kita. Kita harus mengenali suara-Nya dan dorongan-dorongan rahmat-Nya. Dia ingin menyembuhkan kita, dan kehadiran-Nya dalam hidup kita harus kita rasakan dalam batin. Kedua, kita harus memusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh pada suara dalam batin itu. Orang banyak yang menegur Bartimeus melambangkan berbagai “suara” dan godaan yang kita alami dalam hidup, yang berusaha menghalangi kita untuk berseru dengan setia dan penuh semangat kepada Allah yang berbicara kepada kita. Tidak boleh ada apa pun yang menggoyahkan tekad kita yang sepenuh hati untuk berseru kepada Yesus dengan membawa kebutuhan kita.
Renungkanlah hari ini Bartimeus sebagai gambaran diri Anda sendiri. Lihatlah diri Anda sebagai orang yang sangat membutuhkan Tuhan kita, dan pasanglah telinga untuk mendengar suara-Nya yang jelas. Apakah Anda mendengar-Nya? Apakah Anda merasakan Dia sedang lewat? Saat Anda merasakannya, berserulah kepada-Nya dengan penuh semangat, kesungguhan, dan keyakinan. Dan jika Anda mendapati adanya godaan-godaan yang berusaha membungkam doa dan iman Anda, tingkatkanlah kesungguhan Anda dan berserulah “semakin keras” kepada Tuhan kita. Dia akan mendengar Anda, memanggil Anda kepada-Nya, dan memberikan kepada Anda rahmat yang ingin Dia anugerahkan.
Yesusku yang maharahim, Engkau senantiasa lewat, menarikku kepada-Mu melalui kehadiran ilahi-Mu. Berilah aku rahmat yang kubutuhkan agar aku menyadari kebutuhanku dan berseru kepada-Mu dengan segenap hati. Semoga aku tidak pernah terhalang untuk berdoa dengan penuh semangat ini, ya Tuhan terkasih, dan ketika godaan datang, semoga aku berseru semakin kuat. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Teguran Yesus
Jumat Pekan Biasa VIII
Keesokan harinya, ketika mereka meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dari jauh Dia melihat sebatang pohon ara yang berdaun, lalu mendekatinya untuk melihat apakah Dia dapat menemukan sesuatu pada pohon itu. Ketika sampai di situ, Dia tidak menemukan apa pun selain daun, sebab saat itu bukan musim buah ara. Lalu Dia berkata kepada pohon itu, “Semoga tidak seorang pun makan buahmu lagi untuk selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nya mendengar perkataan itu. Markus 11:12–14
Ini adalah kisah yang sangat unik dan menarik. Hal pertama yang disampaikan kisah ini kepada kita adalah bahwa Yesus sepenuhnya manusia. Sebagai manusia, Dia merasa lapar. Namun, kisah ini menyampaikan jauh lebih banyak daripada sekadar kenyataan bahwa Yesus merasa lapar. Dia tentu mengetahui bahwa saat itu bukan musim pohon ara berbuah, tetapi Dia tetap memutuskan untuk mencari buah ara. Dan ketika tidak menemukannya, Dia mengutuk pohon ara itu dan, sebagaimana kita baca kemudian dalam bab ini, pohon itu menjadi layu dan mati. Ini adalah tindakan simbolis demi para murid-Nya, sebab mereka mendengar Dia mengutuk pohon itu dan kemudian melihat bahwa pohon itu telah layu.
Santo Beda, seorang Bapa Gereja perdana, mengatakan kepada kita bahwa tindakan Yesus ini memiliki tujuan alegoris. Pohon itu melambangkan banyak orang yang dijumpai Yesus, dan yang terus dijumpai-Nya hingga kini, yang tidak menghasilkan buah yang baik dalam hidup mereka. Mereka adalah orang-orang Farisi dan orang-orang lain yang menjalankan iman mereka hanya secara lahiriah. Daun-daunnya, menurut Santo Beda, melambangkan segi-segi lahiriah iman, sedangkan ketiadaan buah melambangkan tidak adanya buah batiniah berupa kekudusan dan perbuatan baik. Pelajaran ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus sangat menuntut. Dia bertekad untuk menemukan buah yang baik dalam hidup kita. Dia ingin agar kita menjadi sungguh-sungguh kudus. Dan ketika Dia hanya menemukan hal-hal lahiriah, Dia akan menegur kita dengan kasih, bahkan dengan mengambil juga hal-hal lahiriah itu.
Buah baik apa yang ingin Tuhan kita temukan dalam hidup Anda? Bagaimana Dia menghendaki Anda bertumbuh secara nyata dalam kekudusan? Apakah Anda sekadar menjalankan rutinitas, menghadiri Misa, mendaraskan beberapa doa, tetapi tidak menghasilkan keutamaan, belas kasih, kerahiman, dan kebaikan yang berlimpah? Apakah Anda mengatakan bahwa Anda percaya kepada Tuhan kita, tetapi kemudian tidak mewartakan Injil yang suci melalui perkataan maupun tindakan Anda? Jika Tuhan kita datang kepada Anda, seperti ketika Dia mendatangi pohon ara ini, apa yang akan Dia temukan?
Menjadi seorang Kristiani bukanlah sesuatu yang hanya menyangkut hubungan antara Anda dan Allah. Menjadi seorang Kristiani menuntut Anda untuk begitu menyerahkan diri dalam pelayanan kepada Allah dan sesama sehingga Allah dapat melakukan hal-hal luar biasa melalui Anda. Iman Kristiani harus menghasilkan buah yang baik dalam hidup Anda dan, melalui Anda, dalam hidup orang lain. Dan buah itu harus dihasilkan secara berlimpah.
Renungkanlah hari ini gambaran kudus tentang Yesus yang berjalan menghampiri pohon ara ini, memeriksanya untuk mencari buah ara. Pandanglah pohon ini sebagai gambaran jiwa Anda dan lihatlah rasa lapar dalam hati Tuhan kita. Ketika Dia memandang Anda dan hidup Anda, akankah Dia dikenyangkan? Akankah Dia menemukan kekudusan dan perbuatan baik yang nyata? Ataukah Dia hampir tidak menemukan apa pun, atau bahkan tidak menemukan apa-apa, selain pengakuan lahiriah bahwa Anda seorang Kristiani? Berkomitmenlah untuk hidup dalam kekudusan yang sejati, nyata, dan berlimpah, maka rasa lapar Tuhan kita akan dipuaskan.
Tuhanku yang penuh tuntutan, Engkau memanggil semua pengikut-Mu kepada kekudusan yang dihayati, mengubah hidup, nyata, dan berbuah bagi Kerajaan-Mu. Bantulah aku untuk menjadi seorang Kristiani bukan hanya dalam nama, melainkan terutama dalam tindakan. Semoga hidupku sungguh menghasilkan buah kekudusan yang baik, dan semoga kekudusan itu menjadi sarana bagi-Mu untuk memuaskan rasa lapar rohani umat-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Bahaya Ketegaran Hati
Sabtu Pekan Biasa VIII
“Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Jawablah Aku, dan Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal ini. Apakah baptisan Yohanes berasal dari surga atau dari manusia? Jawablah Aku.” Markus 11:29–30
Inilah jawaban Yesus kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua ketika mereka mendekati-Nya di pelataran Bait Allah dan bertanya kepada-Nya dengan kuasa manakah Ia melakukan semua itu. Dan apa sebenarnya yang Yesus lakukan? Sehari sebelumnya, Yesus berada di Bait Allah dan mengusir para penukar uang sambil berkata kepada mereka, “Bukankah ada tertulis: ‘Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa’? Tetapi kamu telah menjadikannya sarang penyamun.” Hal ini membuat para pemimpin agama berang, dan mereka segera mulai membicarakan bagaimana mereka dapat membunuh Yesus.
Pertama-tama, perhatikan suasana yang penuh ketegangan itu. Mereka benar-benar sedang bersekongkol untuk membunuh Yesus, Putra Allah. Mereka dipenuhi kebencian dan iri hati serta menolak untuk percaya kepada-Nya. Yesus melihat kekerasan hati mereka dan mendesak mereka untuk terlebih dahulu menjawab pertanyaan-Nya sebelum Dia menjawab pertanyaan mereka. Mengapa Yesus melakukan hal ini?
Pertanyaan yang Yesus ajukan kepada mereka sebenarnya merupakan tindakan kerahiman-Nya yang besar. Dia memberi mereka kesempatan untuk bertobat. Seandainya saja mereka menjawab pertanyaan-Nya dengan iman yang rendah hati dan kejujuran, mereka dapat menyelamatkan hidup mereka. Namun sebaliknya, mereka membicarakan pertanyaan-Nya di antara mereka sendiri dan memberikan jawaban yang aman secara politis. Jika mereka mengatakan bahwa baptisan Yohanes berasal dari manusia, dan bukan dari Allah, mereka takut orang banyak akan berbalik melawan mereka. Maka mereka hanya berkata, “Kami tidak tahu.” Namun, bayangkan seandainya mereka memberikan jawaban yang benar. Bagaimana jika mereka membicarakannya di antara mereka sendiri dan menyimpulkan bahwa baptisan Yohanes sungguh berasal dari Allah dan bahwa mereka seharusnya percaya kepadanya? Seandainya saja mereka merendahkan diri dan mengakui bahwa mereka telah sangat keliru mengenai Yohanes, maka Yesus akan menjawab pertanyaan mereka, dan kehidupan iman mereka yang sejati dapat dimulai. Namun, mereka tidak melakukannya. Mereka tetap bertegar hati. Mereka tidak sanggup mengakui bahwa mereka salah.
Ketegaran hati termasuk di antara dosa-dosa yang paling berbahaya. Ini adalah dosa yang tidak dapat diampuni karena, pada hakikatnya, ketegaran hati merupakan penolakan untuk berubah. Dan ketika seseorang menolak untuk mengakui dosanya serta menolak untuk berubah, Allah tidak dapat menolongnya. Ia tetap tersesat dalam dosanya dan menanggung akibatnya.
Apakah Anda bergumul dengan ketegaran hati dalam hidup Anda? Apakah Anda merasa sulit mengakui ketika Anda salah? Apakah Anda merasa sulit meminta maaf kepada orang lain dan berusaha untuk berubah?
Renungkanlah hari ini hal-hal yang masih membuat Anda bertegar hati. Adakah hal-hal menyangkut iman yang Anda tolak untuk percayai? Adakah hubungan yang retak yang Anda tolak untuk pulihkan dengan rendah hati? Apakah Anda membenarkan dosa Anda dan menolak mengakui kesalahan Anda serta perlunya Anda berubah? Berdoalah kepada Tuhan kita untuk memohon karunia hati yang rendah hati. Dalam banyak hal, kerendahan hati tidak lain adalah bersikap sepenuhnya jujur kepada diri sendiri dan sesama di hadapan Allah. Jangan mengikuti teladan para pemimpin agama ini. Dengan rendah hati, berusahalah menyingkirkan segala ketegaran hati dari hati Anda agar Tuhan kita dapat masuk dan membawa kerahiman-Nya ke dalam hidup Anda.
Yesusku yang teguh, Engkau menghadapi mereka yang tinggi hati, angkuh, dan keras kepala dengan kekuatan dan kasih yang besar. Engkau melakukannya untuk membantu mereka mengatasi kekerasan hati mereka. Berilah aku rahmat kerendahan hati, ya Tuhan yang terkasih, agar aku selalu mampu mengakui dosaku dan berbalik kepada-Mu dengan kasih. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Keempat jilid tersedia dalam format buku cetak bersampul lunak & buku elektronik!
Amazon – Google Play – iTunes – Barnes and Noble

