Bahasa Indonesia

Renungan untuk Peristiwa Terang

Pembaptisan Yesus: Jati Diri dan Penerimaan Rahmat Sakramental

Bacalah dengan penuh doa kisah pembaptisan Yesus dalam Matius 3:1–17…

Saat Anda berdoa, pejamkanlah mata dan periksalah cara Anda memandang diri sendiri. Apakah Anda memiliki citra diri yang buruk? Apakah Anda terkadang merasa tertekan? Apakah Anda merasa frustrasi menghadapi kehidupan dan kehilangan harapan? Jika demikian, renungkanlah mengapa Anda mengalami pikiran dan perasaan ini. Kemungkinan besar, penyebabnya adalah Anda lebih banyak memandang kelemahan dan kegagalan Anda daripada martabat Anda sebagai anak Allah. Dalam keheningan, renungkanlah gambaran-gambaran keliru tentang diri Anda serta hal-hal tidak sehat yang selama ini Anda jadikan dasar identitas diri…

Sekarang arahkanlah pikiran Anda pada satu hal—pembaptisan Anda. Segalanya berubah pada saat itu. Jiwa Anda ditandai dengan meterai yang tak terhapuskan, yang menandai Anda sebagai anak Allah. Allah mengasihi Anda dengan cara-cara yang tak akan pernah dapat Anda selami. Jiwa Anda telah dibersihkan dalam air baptis dan diberi kehidupan baru. Dengarkanlah suara Bapa yang berkata kepada Anda, “Engkaulah putra-Ku yang terkasih…engkaulah putri-Ku yang terkasih.” Hayatilah identitas itu agar Bapa juga dapat berkata kepada Anda, “Dalam dirimu Aku berkenan”…

Bacalah juga dengan penuh doa kisah tentang empat puluh hari Yesus di padang gurun dalam Matius 4:1-11…

Iblis dan roh-roh jahat yang telah jatuh serta tunduk kepadanya terus-menerus bekerja. Mereka selalu berdusta kepada kita, menggunakan kemampuan alami mereka untuk menanamkan sugesti guna memengaruhi kita dan mengacaukan pikiran kita. Apakah Anda mendengarkan mereka dan menyerah pada penalaran yang keliru? Setelah pembaptisan-Nya, Yesus dibawa ke padang gurun selama empat puluh hari untuk berpuasa, berdoa, dan mengalahkan godaan-godaan paling umum yang kita hadapi. Mulailah dengan menghadapi godaan pertama yang dikalahkan Yesus—godaan kedagingan. Bagaimana Iblis menggoda Anda dalam hal ini? Apakah Anda makan berlebihan—memanjakan diri dengan makanan yang memberi rasa nyaman, alkohol, istirahat berlebihan, atau kenyamanan jasmani lainnya? Apakah Anda berpuasa, melakukan penitensi, dan mengendalikan keinginan Anda? Begitu mudah kita terjebak dalam pemikiran bahwa memanjakan diri akan membuat kita bahagia, padahal tidak demikian. Kebebasan mendatangkan kebahagiaan. Kebebasan diperoleh dengan mengekang keinginan kita, terutama melalui mati raga. Kenalilah godaan-godaan utama yang Anda hadapi dalam hal ini dan, dalam doa, bawalah godaan-godaan itu ke hadapan kuasa yang telah dimenangkan bagi kita dalam Kristus…

Kedua, renungkanlah dengan penuh doa godaan untuk membuktikan nilai dan harga diri Anda kepada orang lain. Inilah kesombongan. Satu-satunya pandangan yang penting adalah pandangan Allah. Bagaimana Allah memandang Anda? Seandainya Yesus memulai pelayanan-Nya dengan menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah agar dilihat semua orang, lalu para malaikat menangkap-Nya dan menurunkan-Nya ke tanah, semua orang tentu akan takjub. Ia tentu akan memiliki banyak pengikut yang percaya kepada-Nya, tetapi mereka tidak akan percaya berdasarkan iman. Mereka akan percaya karena kesombongan, yang sama sekali tidak ada dalam diri Tuhan kita. Pertimbangkanlah apakah Anda suka memamerkan diri, berusaha meyakinkan orang lain tentang bakat dan keberhasilan Anda serta meraih penghargaan mereka yang sesaat. Jika demikian, ketahuilah bahwa “penghargaan” semacam itu tidak memiliki nilai yang bertahan lama. Kasih tidak didasarkan pada kesombongan duniawi. Dalam doa, kembalilah kepada identitas hakiki Anda, yang diberikan kepada Anda dalam Pembaptisan, dan temukanlah ketenteraman hanya dalam identitas itu…

Akhirnya, seberapa lekatkah Anda pada kekayaan dan kekuasaan? Apakah Anda selalu menuntut agar segala sesuatu berjalan sesuai keinginan Anda? Apakah Anda senang memegang kendali? Seberapa lekatkah Anda pada hal-hal materi? Kemiskinan Yesus adalah tanda paling jelas bagi kita bahwa menimbun kekayaan bukanlah jawaban untuk mencapai kehidupan yang penuh makna. Jawabannya adalah kemiskinan. Kesederhanaan. Ketidaklekatan pada harta benda. Selain itu, memegang kendali dan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan bukanlah jalan menuju kebahagiaan. Pelayanan tanpa pamrihlah jalannya. Kita harus membiasakan diri untuk mendahulukan orang lain dan menemukan sukacita besar dalam melakukannya. Pertimbangkanlah bagaimana Anda menjalani semua hal ini dan, dalam doa, bukalah diri terhadap kemiskinan dan sikap tanpa pamrih yang diteladankan Yesus saat kelahiran-Nya dan ketika Ia dicobai di padang gurun. Inilah jalan yang Ia bentangkan bagi kita masing-masing. Maukah Anda mengikutinya?…

Pernikahan di Kana: Mengalami Keberbuahan Rohani

Bacalah dengan penuh doa Yohanes 2:1–12…

Saat Anda berdoa, tempatkanlah diri Anda dalam suasana Perkawinan di Kana. Bayangkan diri Anda sebagai salah seorang murid yang baru dipanggil Yesus. Anda bersemangat untuk mengikuti-Nya, namun masih belum yakin. Ia tampaknya seorang yang agung—seorang nabi atau bahkan Mesias yang dijanjikan—tetapi masih ada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Dalam permenungan Anda, pertimbangkanlah keraguan apa yang Anda miliki dalam mengikuti Tuhan kita. Jika ada keraguan yang jelas, hadapilah secara langsung. Jika tidak, selidikilah lebih dalam dengan penuh doa dan cobalah mengenali keraguan sekecil apa pun atau bahkan sedikit saja kebimbangan yang Anda miliki…

Kita semua diundang ke perjamuan perkawinan abadi dalam Persatuan Ilahi. Kita diundang untuk menjadi sepenuhnya satu dengan Kristus melalui proses pendalaman doa, pertobatan, dan transformasi. Renungkanlah kehadiran Yesus dalam Perkawinan di Kana dan undangan bagi Anda untuk hadir di sana. Pandanglah undangan itu sebagai undangan bagi Anda untuk menjadi satu dengan Kristus dan katakanlah “Ya” kepada-Nya…

Sekarang arahkanlah pandangan Anda kepada Bunda Maria dan dengarkanlah ia berkata, “Putraku, mereka kehabisan anggur.” Renungkanlah kepekaan Bunda Maria terhadap masalah ini, kepeduliannya, dan kesediaannya untuk membantu. Sambil merenungkannya, ketahuilah bahwa ia sungguh menyadari pergumulan Anda sendiri serta kebutuhan Anda akan rahmat. Ia memandang semuanya itu dengan belas kasih dan empati seorang ibu. Bayangkanlah kenyataan bahwa satu-satunya kepeduliannya adalah Anda dan satu-satunya keinginannya adalah agar jiwa Anda dipenuhi rahmat Putranya…

Saat Anda melihat belas kasih dalam Hati Maria yang Tak Bernoda, bayangkanlah ia menatap mata Anda dan berkata dengan kasih yang mendalam, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu.” Dengarkanlah kata-kata itu berulang kali. Biarkanlah Roh Kudus menyingkapkan kepada Anda dalam hal-hal apa saja Anda telah gagal untuk segera dan sepenuhnya taat pada kehendak Allah. Ungkapkanlah penyesalan Anda dalam doa dan bertekadlah untuk berubah…

Ketika Yesus memerintahkan para pelayan untuk mengisi enam tempayan batu dengan air, pandanglah salah satu tempayan itu sebagai lambang jiwa Anda sendiri. Yang dapat Anda lakukan hanyalah mempersembahkan diri kepada Tuhan kita, dengan jiwa yang penuh air tawar. Dengan kekuatan Anda sendiri, tidak ada buah yang dihasilkan, tidak ada kelimpahan yang meluap, tidak ada sesuatu pun yang bernilai jasa. Lalu lihatlah Tuhan kita mencurahkan rahmat-Nya ke dalam jiwa Anda dan mengubah apa yang Anda bawa kepada-Nya menjadi “anggur” terbaik berupa rahmat yang berlimpah ruah. Pandanglah dengan takjub jiwa Anda sendiri yang telah diubah…

Anggur itu diperuntukkan bagi perayaan, bagi semua yang hadir. Demikian pula, kita harus memandang diri kita sebagai sarana rahmat Allah dengan mempersembahkan hidup kita, yang kini telah diubah oleh rahmat, kepada sesama. Siapakah yang Allah panggil Anda untuk lebih Anda kasihi? Kepada siapakah Allah memanggil Anda untuk mencurahkan rahmat-Nya? Seandainya tuan rumah pesta perkawinan itu melihat anggur tersebut lalu menyimpannya untuk dirinya sendiri, perayaan itu tentu sudah berakhir. Jika kita menolak untuk bermurah hati membagikan rahmat yang telah diberikan kepada kita, kita kehilangan segalanya dan orang lain akan menderita karenanya. Renungkanlah kewajiban Anda bukan hanya untuk menerima rahmat yang berlimpah, melainkan juga untuk membagikannya kepada sesama agar mereka mengalami kemuliaan Allah ketika rahmat dalam diri Anda menyentuh hidup mereka…

Pewartaan Kerajaan Allah dan Seruan Pertobatan: Injil Diwartakan

Bacalah Matius 4:12–25 dalam suasana doa. Pertimbangkan juga untuk membaca beberapa bagian dari Khotbah di Bukit, Matius 5–7.

Ingatlah suatu bagian dari Injil yang pernah menantang Anda, lalu berdiam dirilah bersama perikop itu dalam doa. Berdoa dengan Kitab Suci berbeda dari membaca atau mempelajarinya. Berdoa dengan Kitab Suci adalah komunikasi yang aktif dengan Yesus. Seolah-olah Anda sedang duduk di Bukit Sabda Bahagia, mendengarkan Dia berkhotbah khusus kepada Anda. Luangkanlah waktu untuk membayangkan Dia mengajar Anda melalui Sabda-Nya, terutama melalui khotbah-khotbah yang paling menantang Anda…

Mendengarkan, memahami, dan menanggapi segala sesuatu yang diajarkan Yesus tidak dapat dilakukan dalam satu hari. Renungkanlah dalam doa seberapa besar komitmen Anda terhadap tugas perutusan ini. Renungkanlah kedua belas Rasul dan bayangkan diri Anda berjalan bersama mereka selama tiga tahun, meluangkan waktu bersama Yesus setiap hari. Bahkan setelah tiga tahun itu, mereka melarikan diri karena takut ketika Yesus ditangkap. Namun, segala sesuatu yang telah mereka dengar dan lihat meletakkan dasar bagi kekudusan yang mendalam. Renungkanlah dalam doa dasar yang ada di dalam hati Anda sendiri. Perhatikan bagian-bagian yang lemah, dan bersukacitalah atas bagian-bagian yang kuat…

Pewartaan Yesus pertama-tama merupakan panggilan untuk bertobat. Apakah Anda secara teratur memeriksa batin, menerima Sakramen Tobat, dan berusaha mencabut hingga ke akar-akarnya bahkan dosa-dosa kecil dari hidup Anda? Kita dipanggil untuk menjadi sempurna! Setelah Khotbah-Nya di Bukit, Yesus berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Matius 5:48). Renungkanlah ayat itu dan periksalah apakah Anda berjuang untuk mencapai kesempurnaan atau merasa puas dengan hidup yang biasa-biasa saja…

Kembalilah kepada Sabda Bahagia (Matius 5:3–12) dan bacalah satu per satu, berhenti sejenak setelah setiap sabda, sambil berdoa memohon pemahaman akan maknanya dan membuka hati untuk menghayatinya sepenuhnya…

Transfigurasi: Mengalami Penghiburan Rohani

Bacalah dalam suasana doa percakapan Yesus dengan para Rasul-Nya tepat sebelum peristiwa Yesus Dimuliakan, dalam Matius 16:14–28.

Bayangkan diri Anda bersama Petrus dan para Rasul lainnya ketika Yesus untuk pertama kalinya memberi tahu Anda bahwa Ia akan sangat menderita di tangan para pemuka agama dan dibunuh. Bayangkan betapa terkejutnya Anda mendengar berita itu. Anda baru saja percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Putra Allah, menyaksikan Dia melakukan mukjizat, mendengar khotbah-khotbah-Nya yang penuh kuasa, dan kini Ia memberi tahu Anda bahwa Ia akan sangat menderita dan dibunuh… 

Ketika Anda mendengarkan dengan saksama Tuhan kita menyingkapkan berita tentang Sengsara-Nya yang akan datang, Anda memandang Dia dan merasakan keyakinan dalam suara-Nya—keteguhan, tekad, dan kedamaian-Nya. Meskipun dukacita yang kudus meresapi perkataan-Nya, kedamaian dan sukacita juga hadir. Anda merasakan betapa mendesaknya tugas perutusan-Nya dan mendapati diri Anda diliputi pergulatan batin. Anda mengharapkan Mesias yang mulia, bukan Mesias yang akan dibunuh…

Ketika Anda membayangkan diri hadir saat Tuhan kita pertama kali menyingkapkan Sengsara-Nya kepada para murid-Nya, bayangkan Yesus kini berpaling kepada Anda dan berbicara kepada Anda tentang sengsara Anda sendiri. Dengan penuh belas kasih, Ia mulai menguraikan satu per satu pengorbanan yang Ia kehendaki dari Anda. Apa sajakah yang akan ada dalam daftar itu? Siapakah yang Ia kehendaki untuk Anda ampuni? Kepada siapakah Ia memanggil Anda untuk membalas kutuk dengan berkat, menanggapi dosa dengan kebaikan, dan menunjukkan belas kasih yang jauh melampaui keadilan duniawi?…

Ketika Anda merenungkan kasih penuh pengorbanan yang menjadi panggilan Anda dan merasakan keraguan dalam jiwa Anda sendiri, arahkanlah pandangan Anda kepada peristiwa Yesus Dimuliakan (Bacalah Matius 17:1–13 dalam suasana doa). Bayangkan Tuhan yang sama, yang memanggil Anda untuk mengasihi dengan penuh pengorbanan, dimuliakan tepat di hadapan mata Anda, lebih bercahaya daripada apa pun yang pernah Anda lihat, membanjiri indra jasmani Anda dengan kemanisan paling murni yang pernah Anda rasakan. Maukah Anda menaruh kepercayaan kepada Tuhan yang begitu bercahaya dan mulia ini?…

Ingatlah pengalaman-pengalaman yang pernah mengubah diri Anda dan membawa Anda seakan berada di puncak gunung. Pernahkah ada saat-saat doa atau penghiburan yang dapat Anda rasakan, ketika Anda sungguh tahu bahwa Allah mengasihi Anda dan menyertai Anda? Kenanglah kembali saat-saat itu sebagai pengingat bahwa jalan menuju pengalaman akan kemuliaan Allah yang jauh lebih penuh adalah Salib. Salib membawa kepada Kebangkitan, dan Kebangkitan membawa kepada Kenaikan ke Surga. Kita harus mati, bangkit, dan naik ke surga bersama Tuhan kita agar pengalaman Puncak Gunung yang sejati, yakni Pandangan yang Membahagiakan di Surga, menjadi milik kita selamanya. Bertekadlah untuk terus mendaki gunung itu dan bertekun melewati setiap pergumulan, dengan mengetahui apa yang menanti Anda di puncaknya…

Penetapan Ekaristi: Memperdalam Pemahaman tentang Komuni dan Adorasi

Mulailah doa Anda dengan mengenang Perjamuan Terakhir dan membaca salah satu kisahnya dalam suasana doa: Matius 26:14–35; Markus 14:12–26; Lukas 22:7–38; atau Yohanes 13–17. Misa pertama dimulai pada saat itu dan berlanjut sepanjang Sengsara Yesus. Renungkanlah dalam doa Perjamuan Terakhir yang dirayakan Yesus bersama para Rasul-Nya…

Dalam Injil Yohanes (Yohanes 6:51–58, RVC-CE), Yesus berkata, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga; jika seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya; dan roti yang akan Kuberikan demi kehidupan dunia ialah daging-Ku.” Seperti yang dapat diduga, beberapa orang Yahudi bertanya kepada Tuhan kita, “Bagaimana orang ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Kepada mereka, Yesus menjawab dengan lebih jelas lagi. Jadikanlah pernyataan mendalam tentang Ekaristi ini sebagai bahan permenungan dalam doa. Saat membacanya, renungkanlah pentingnya menyambut Komuni Kudus:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa makan Aku akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan seperti roti yang dimakan oleh para leluhur dan mereka telah mati; barangsiapa makan roti ini akan hidup selama-lamanya.

Karena Misa adalah Kurban Kristus di Salib yang satu dan kekal, kita dibawa secara rohani ke Salib setiap kali kita menghadiri dan mengambil bagian dalam Misa. Luangkanlah waktu sejenak untuk membayangkan Penyaliban. Bersama Bunda-Nya yang Terberkati, pandanglah Tuhan kita, dan dalam doa ingatlah bahwa kenyataan ini dihadirkan bagi Anda dalam Misa…

Setelah Komuni Kudus, Hosti yang telah dikonsekrasi dan masih tersisa ditempatkan dalam tabernakel. Kehadiran sakramental Tuhan kita ini adalah Kehadiran Nyata-Nya. Meskipun tersembunyi dari pandangan mata kita, Dia adalah Tuhan kita, Tuhan yang sama yang disembah oleh para malaikat dan para kudus di Surga. Pejamkanlah mata Anda dan akuilah Kehadiran Nyata-Nya dalam tabernakel. Bayangkanlah gereja atau kapel tempat Anda biasa beribadah dan akuilah kehadiran-Nya, nyatakanlah iman Anda kepada-Nya, bersyukurlah kepada-Nya, dan sembahlah Dia…


Berikutnya: Renungan untuk Peristiwa-Peristiwa Sedih

Daftar Isi

Buku Sampul Lunak – Buku Elektronik Kindle – Google Play – Apple Books – dan lainnya!

Bagikan Halaman Ini: